Usai Nyepi, Remaja Denpasar Gelar Tradisi Ciuman Massal
Kamis, 23 Maret 2023 - 19:46 WIB
loading...
Remaja di Desa Sesetan Denpasar menggelar Omed-omedan atau tradisi ciuman massal, Kamis (23/3/2023). Tradisi itu digelar sehari setelah Hari Raya Nyepi. Foto/Ist
A
A
A
DENPASAR - Remaja di Desa Sesetan, Denpasar, Bali menggelar Omed-omedan atau tradisi ciuman massal, Kamis (23/3/2023). Tradisi itu digelar sehari setelah Hari Raya Nyepi.
Tradisi tahunan itu digelar di jalan raya tepatnya di depan Balai Desa Sesetan.
Baca juga: 5 Tradisi Cari Jodoh Unik di Nusantara: Omed-omedan sampai Gredoan Cuma Ada di Indonesia
"Omed-omedan artinya tarik menarik untuk tujuan kebersamaan setelah Nyepi," kata Kelian Adat Banjar Kaja Sesetan I Made Sudama.
Dia menerangkan, Omed-omedan sempat digelar di dalam balai banjar selama tiga tahun akibat pandemi COVID-19. Pesertanya pun cuma tiga pasang muda-mudi.
Setelah pandemi, Omed-omedan kembali digelar di jalan raya dan diikuti semua muda-mudi. Masyarakat umum pun kembali bisa ikut menonton dan jumlahnya membeludak.
Sekitar pukul 15.00 Wita, Omed-omedan pun dimulai. Setiap sesi, masing-masing kelompok mengeluarkan jagonya.
Baca juga: 7 Fakta Hari Raya Nyepi di Bali, Ada Tradisi Saling Cium
Setelah siap, pihak laki-laki dan perempuan berdiri berhadapan. Mereka lantas didorong kelompoknya masing-masing. Begitu saling mendekat, setiap pasangan saling dekap dan melancarkan ciuman.
Hanya saja, aksi ciuman ini tak berlangsung lama. Panitia menyiramkan air ke pasangan tersebut, sebagai tanda untuk mengakhiri ciuman.
"Saat kena cium pria yang tampan, senang. Kalau kena yang jelek, ya terpaksa," ujar Made, salah satu peserta.
Ribuan warga dan wisatawan yang menonton berusaha mengambil foto saat pasangan muda mudi berciuman.
"Sengaja datang ke Bali untuk merasakan Nyepi dan melihat Omed-omedan," ujar Tina, wisatawan asal Surabaya.
Tradisi tahunan itu digelar di jalan raya tepatnya di depan Balai Desa Sesetan.
Baca juga: 5 Tradisi Cari Jodoh Unik di Nusantara: Omed-omedan sampai Gredoan Cuma Ada di Indonesia
"Omed-omedan artinya tarik menarik untuk tujuan kebersamaan setelah Nyepi," kata Kelian Adat Banjar Kaja Sesetan I Made Sudama.
Dia menerangkan, Omed-omedan sempat digelar di dalam balai banjar selama tiga tahun akibat pandemi COVID-19. Pesertanya pun cuma tiga pasang muda-mudi.
Setelah pandemi, Omed-omedan kembali digelar di jalan raya dan diikuti semua muda-mudi. Masyarakat umum pun kembali bisa ikut menonton dan jumlahnya membeludak.
Sekitar pukul 15.00 Wita, Omed-omedan pun dimulai. Setiap sesi, masing-masing kelompok mengeluarkan jagonya.
Baca juga: 7 Fakta Hari Raya Nyepi di Bali, Ada Tradisi Saling Cium
Setelah siap, pihak laki-laki dan perempuan berdiri berhadapan. Mereka lantas didorong kelompoknya masing-masing. Begitu saling mendekat, setiap pasangan saling dekap dan melancarkan ciuman.
Hanya saja, aksi ciuman ini tak berlangsung lama. Panitia menyiramkan air ke pasangan tersebut, sebagai tanda untuk mengakhiri ciuman.
"Saat kena cium pria yang tampan, senang. Kalau kena yang jelek, ya terpaksa," ujar Made, salah satu peserta.
Ribuan warga dan wisatawan yang menonton berusaha mengambil foto saat pasangan muda mudi berciuman.
"Sengaja datang ke Bali untuk merasakan Nyepi dan melihat Omed-omedan," ujar Tina, wisatawan asal Surabaya.
(shf)
Lihat Juga :