Cerita Kolonial Belanda Ajarkan Gaya Hidup Tenggak Miras dan Makan Kentang

Kamis, 02 Maret 2023 - 08:29 WIB
loading...
Cerita Kolonial Belanda...
ilustrasi
A A A
Maraknya hobi menenggak minuman keras (miras) di masyarakat Hindia Belanda (Indonesia), yakni utamanya Batavia (Jakarta) banyak dipengaruhi oleh gaya hidup orang-orang kolonial Belanda.

Kebiasaan menenggak miras juga datang dari kelas sosial menengah. Dalam setiap pertemuan, kehadiran miras dengan kandungan alkohol tinggi nyaris tidak pernah tertinggal. Alkohol membuat obrolan jadi lebih rileks.

Begitu juga pada acara perjamuan atau pesta yang digelar oleh kalangan mereka. Miras selalu ada. Gaya hidup yang selalu menyertakan miras itu sekaligus untuk memperlihatkan status sosial.

“Pada masa kolonial minuman keras merupakan simbol status masyarakat,” demikian dikutip dari buku Minuman Keras di Batavia Akhir Abad XIX (2016).

Baca juga: Pria Tulungagung Koleksi Tali Pocong Orang Meninggal Selasa Kliwon, Patahkan Mitos Kesaktian

Pada masa kolonial Belanda, miras berbagai jenis, merek dan kadar alkohol, beredar luas di Batavia. Masuknya minuman impor secara tidak langsung meminggirkan arak hasil penyulingan fermentasi air tebu pribumi.

Dalam catatan J Kats berjudul Bahaja Minoeman Keras serta Daja Oepaja Mendjaoehinja Teroetama Bagi Hindia Belanda (1920) ada sejumlah miras impor yang beredar luas di Batavia.

Di antaranya bir Inggris dengan kadar alkohol 5-7 %, anggur asam dengan alkohol 7-11 %, anggur Bordeaux 12 %, anggur Italia 14 %, anggur Port 17 %, liqeur (sopi manis) 25-30%, Jenewer 30-40%, Brandewijn 30-40 % , Cognag 40-45%, Rum 45-75% dan Whiskey 60%.

“Sedangkan arak sebagai minuman keras lokal memiliki kandungan alkohol 60%,” tulisnya.

Kebanyakan minuman keras impor, yakni terutama yang datang dari Paris merupakan minuman mahal. Anggur, whiskey atau cognag banyak muncul di pesta-pesta mewah dan bergengsi kaum elit di Batavia, utamanya orang-orang Eropa.

Gaya hidup kaum borjuasi barat itu diam-diam mencuri perhatian kaum elit bangsawan, yakni para priyayi, aristokrat bumi putera yang kerap dilibatkan dalam pesta.

Mereka kemudian menirunya, termasuk berusaha menjangkau miras harga mahal. Karena menunjukkan status sosial, para mandor pribumi, kepala desa, pegawai kuli perkebunan, akan merasa mendapat status sosial berbeda ketika berhasil menenggak miras harga mahal.

Tingkah laku pribumi di Batavia banyak yang berubah kebarat-baratan. Selain menenggak miras, mereka juga mulai gemar menyantap kentang.

Kebiasaan menghadirkan miras di setiap aktifitas meluas hingga pribumi kelas bawah. Kuli-kuli perkebunan, kuli lepas di tempat pelelangan ikan serta buruh-buruh desa mulai membiasakan diri.

Pada masa lalu, pribumi telah memiliki minuman kerasnya sendiri. Yakni sadjeng dan badeg yang berasal dari fermentasi beras ketan.

Kalaupun tak mampu menjangkau miras mahal, pribumi cukup puas dengan arak yang terklasifikasi paling bawah. Di mana dari situ kemudian muncul budaya oplosan atau kebiasaan mencampur minuman.

Gaya hidup penguasa pada masa pemerintahan kolonial, utamanya terkait budaya minum itu telah menjadi sebuah keharusan. Penguasa diharuskan bergaya hidup dengan ciri dan lambang yang berbeda dengan pribumi.

“Ciri-ciri dan lambang yang berbeda dengan rakyat yang dijajahnya sebagai upaya untuk menunjukkan kekuasaan dan kebesarannya,” demikian yang tertulis dalam catatan Minuman Keras di Batavia Akhir Abad XIX.
(msd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prakiraan Cuaca Jakarta...
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu 24 Juni 2026: Berawan Sejak Pagi, Berpotensi Hujan Ringan Sore Hari
Warga Jakarta Bangun...
Warga Jakarta Bangun Gerakan Bersama Perangi Polusi Udara
Rano Karno Sebut Jakarta...
Rano Karno Sebut Jakarta Masuk 53 Kota Terbaik Dunia Kalahkan Washington DC
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Pramono Anung Siapkan 500 Ondel-ondel Karya Desainer Top
Polda Metro Jaya Terjunkan...
Polda Metro Jaya Terjunkan 4.131 Personel Kawal Demo di Jakarta Hari Ini
Polda Metro Jaya Kawal...
Polda Metro Jaya Kawal Demo Mahasiswa di Jakarta, Aparat Tak Bawa Senpi
Menembus Lima Abad Sejarah...
Menembus Lima Abad Sejarah Jakarta dari Kamar House of Tugu di Kota Tua
Pertama Kali, Dokter...
Pertama Kali, Dokter Belanda Suntik Mati Seorang Anak di Bawah Usia 12 Tahun
Ini Destinasi Ramah...
Ini Destinasi Ramah Anak untuk Mengisi Liburan Sekolah di Jakarta
Rekomendasi
Jadwal Babak 32 Besar...
Jadwal Babak 32 Besar Piala Dunia 2026: Brasil Jumpa Jepang, Argentina Ditantang Cape Verde
Pembangkang China Ini...
Pembangkang China Ini Kabur ke Korea Selatan dengan Perahu Karet, Sekarang Muncul di Kanada
Rencana Batasan Tar-Nikotin...
Rencana Batasan Tar-Nikotin dan Penyeragaman Kemasan Dinilai Ancam Industri Kretek Nasional
Berita Terkini
Cegah Stunting lewat...
Cegah Stunting lewat Program Genting, Menteri Wihaji Salurkan Bantuan RTLH di Sleman
Jelang Hari Bhayangkara...
Jelang Hari Bhayangkara Ke-80, Polda Riau Tuntaskan 110 Jembatan Merah Putih Presisi
Deteksi Bibit Siklon...
Deteksi Bibit Siklon Tropis 96W, BMKG Imbau Masyarakat Waspada Gelombang Tinggi
Dukung Generasi Alpha...
Dukung Generasi Alpha dan Beta, S-26 Gelar Event di Surabaya dan Jakarta
HUT ke-499 Jakarta,...
HUT ke-499 Jakarta, Ribuan Warga Padati CFD Sudirman-Thamrin Saksikan Karnaval Budaya
Kemenag Cabut Izin Pesantren...
Kemenag Cabut Izin Pesantren Ibadurrahman Buntut Kasus Kekerasan Seksual
Infografis
Bagher Ghalibaf, Negosiator...
Bagher Ghalibaf, Negosiator Iran dan Tangan Kanan Mojtaba yang Mampu Tundukkan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved