Mula Malurung, Prasasti Raja Singasari yang Tak Cantumkan Nama Ken Arok
Sabtu, 11 Februari 2023 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Pada Lempeng IX.a baris 6-7 menyebutkan dengan nama Bhatara Siwa yang meninggal di tahta kencana (dampa kanaka), sebagai pendiri kerajaan yang kini berada dalam kekuasaan Sminingrat (makasawana pandiri lmahi talapakan ra sanhuluna) dan pelindung bagi seluruh pulau Jawa serta telah menaklukkan pulau-pulau lainnya (pinakaicchatra ning bhuwana sayadwipamandala anuluyani nusantara).
Pada lempeng IIb: 2–3 menegaskan kakek Sminingrat yang meninggal dunia di kursi emas didharmakan di Kagenengan dalam wujud arca Wisnu. Prasasti Maribong (Trawulan II) bertarikh 1186 Saka (1264 M) dikeluarkan oleh raja yang sama, menyebutkan bahwa kakeknya telah berhasil menentramkan dan mempersatukan dunia (swapita-mahastawanabhinnasranta lokapala).
Isi Prasasti Mula Malurung
Naskah prasasti pada 10 lempeng pertama telah diterjemahkan dan dianalis oleh Slamet Muljana dan dimuat dalam bukunya, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya(1979). Dari uraiannya, naskah prasasti tersebut diperkirakan terdiri atas sepuluh lempeng, namun lempengan kedua, keempat, dan keenam tidak ditemukan.
Lempengan pertama berisi perintah Kertanagara untuk menerbitkan prasasti sebagai piagam pengesahan anugerah Bhatara Parameswara dan Seminingrat, sebagai penguasa Jawa.
Lempengan ketiga berisi pengabdian Pranaraja terhadap raja-raja sebelumnya. Kertanagara disebut sebagai putra Seminingrat dan Waning Hyun. Waning Hyun adalah putri Parameswara. Pengganti Parameswara adalah Guningbhaya lalu Tohjaya. Sepeninggal Tohjaya, Seminingrat menyatukan kembali kerajaan Tumapel.
Lempengan kelima berisi kesetiaan Pranaraja terhadap Seminingrat. Juga berisi puji-pujian untuk Seminingrat.
Lempengan ketujuh berisi lanjutan nama-nama raja bawahan yang diangkat Seminingrat, antara lain Kertanagara di Kadiri dan Jayakatwang di Gelang-Gelang.
Lempengan kedelapan berisi ungkapan terima kasih para abdi yang dipimpin Ramapati atas anugerah raja.
Pada lempeng IIb: 2–3 menegaskan kakek Sminingrat yang meninggal dunia di kursi emas didharmakan di Kagenengan dalam wujud arca Wisnu. Prasasti Maribong (Trawulan II) bertarikh 1186 Saka (1264 M) dikeluarkan oleh raja yang sama, menyebutkan bahwa kakeknya telah berhasil menentramkan dan mempersatukan dunia (swapita-mahastawanabhinnasranta lokapala).
Isi Prasasti Mula Malurung
Naskah prasasti pada 10 lempeng pertama telah diterjemahkan dan dianalis oleh Slamet Muljana dan dimuat dalam bukunya, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya(1979). Dari uraiannya, naskah prasasti tersebut diperkirakan terdiri atas sepuluh lempeng, namun lempengan kedua, keempat, dan keenam tidak ditemukan.
Lempengan pertama berisi perintah Kertanagara untuk menerbitkan prasasti sebagai piagam pengesahan anugerah Bhatara Parameswara dan Seminingrat, sebagai penguasa Jawa.
Lempengan ketiga berisi pengabdian Pranaraja terhadap raja-raja sebelumnya. Kertanagara disebut sebagai putra Seminingrat dan Waning Hyun. Waning Hyun adalah putri Parameswara. Pengganti Parameswara adalah Guningbhaya lalu Tohjaya. Sepeninggal Tohjaya, Seminingrat menyatukan kembali kerajaan Tumapel.
Lempengan kelima berisi kesetiaan Pranaraja terhadap Seminingrat. Juga berisi puji-pujian untuk Seminingrat.
Lempengan ketujuh berisi lanjutan nama-nama raja bawahan yang diangkat Seminingrat, antara lain Kertanagara di Kadiri dan Jayakatwang di Gelang-Gelang.
Lempengan kedelapan berisi ungkapan terima kasih para abdi yang dipimpin Ramapati atas anugerah raja.
Lihat Juga :