Bupati Maros Dorong Petani Tingkatkan Produksi Kedelai
Selasa, 14 Juli 2020 - 22:15 WIB
loading...
Gerakan panen kedelai di Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Selasa (14/7/2020). Foto: SINDOnews/Najmi Limonu
A
A
A
MAROS - Dinas Pertanian Kabupaten Maros melakukan gerakan panen kedelai, Selasa (14/7/2020). Gerakan panen kedelai ini dilakukan di Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung.
Panen kedelai yang dilakukan di lahan seluas 92 hektare ini, dihadiri Direktur Aneka Kacang dan Umbi-umbian Ditjen Tanaman Pangan, Amiruddin Pohan, Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulsel Andi Ardin, Kepala Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian Provinsi Sulsel Abdul Wahid, Kepala Balitserealia Maros, Asrai, serta Bupati Maros, HM Hatta Rahman.
Baca juga: BBVet Maros Sudah Periksa Lebih dari 2.000 Spesimen COVID-19
"Kami berharap agar produksi kedelai bisa ditingkatkan. Apalagi kita ada lima kecamatan yang potensial untuk penanaman kedelai. Semoga lima kecamatan ini bisa menjadi penyangga bibit di Sulsel atau bahkan di Indonesia," harap Bupati Kabupaten Maros, HM Hatta Rahman.
Hanya saja kata dia, saat ini petani terkendala pada harga kedelai yang masih rendah. Karena itu, pemerintah berupaya untuk mendorong harga jual kedelai di tingkat petani bisa lebih tinggi.
Sementara itu Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulsel, Andi Ardin Tjatjo mengatakan, kebutuhan kedelai setiap tahunnya mencapai 3 juta ton. Berhubung produksi kedelai di Sulsel masih sangat rendah, hanya berkisar 500 ton setiap tahun, maka pemprov terpaksa mengimpor kedelai sekitar 2,5 ton dari luar Sulsel. Untuk kebutuhan di Sulsel, kata dia, butuh sekitar 9.000 ton per bulan.
"Setiap tahun Sulsel itu membutuhkan sekitar 110 ribu ton. Yang bisa dipenuhi petani kita hanya 17 ribu ton, selebihnya kita impor. Kita bangga petani di Leang-leang yang tetap menanam kedelai. Kedelai ini merupakan tanaman ketiga yang dibutuhkan setelah padi dan jagung," jelasnya.
Panen kedelai yang dilakukan di lahan seluas 92 hektare ini, dihadiri Direktur Aneka Kacang dan Umbi-umbian Ditjen Tanaman Pangan, Amiruddin Pohan, Kadis Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sulsel Andi Ardin, Kepala Balai Pengkajian dan Teknologi Pertanian Provinsi Sulsel Abdul Wahid, Kepala Balitserealia Maros, Asrai, serta Bupati Maros, HM Hatta Rahman.
Baca juga: BBVet Maros Sudah Periksa Lebih dari 2.000 Spesimen COVID-19
"Kami berharap agar produksi kedelai bisa ditingkatkan. Apalagi kita ada lima kecamatan yang potensial untuk penanaman kedelai. Semoga lima kecamatan ini bisa menjadi penyangga bibit di Sulsel atau bahkan di Indonesia," harap Bupati Kabupaten Maros, HM Hatta Rahman.
Hanya saja kata dia, saat ini petani terkendala pada harga kedelai yang masih rendah. Karena itu, pemerintah berupaya untuk mendorong harga jual kedelai di tingkat petani bisa lebih tinggi.
Sementara itu Kadis Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sulsel, Andi Ardin Tjatjo mengatakan, kebutuhan kedelai setiap tahunnya mencapai 3 juta ton. Berhubung produksi kedelai di Sulsel masih sangat rendah, hanya berkisar 500 ton setiap tahun, maka pemprov terpaksa mengimpor kedelai sekitar 2,5 ton dari luar Sulsel. Untuk kebutuhan di Sulsel, kata dia, butuh sekitar 9.000 ton per bulan.
"Setiap tahun Sulsel itu membutuhkan sekitar 110 ribu ton. Yang bisa dipenuhi petani kita hanya 17 ribu ton, selebihnya kita impor. Kita bangga petani di Leang-leang yang tetap menanam kedelai. Kedelai ini merupakan tanaman ketiga yang dibutuhkan setelah padi dan jagung," jelasnya.
Lihat Juga :