4 Raja Terkejam yang Pernah Ada di Nusantara, dari Pembantaian hingga Rudapaksa Anak Perempuan
Rabu, 21 Desember 2022 - 16:30 WIB
Melansir dari jurnal bertajuk "Amangkurat I dan Hubungannya dengan Ulama di Kerajaan Mataram Islam", Amangkurat I memerintah Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1646 sampai 1677. Dia memang dikenal memiliki hubungan baik dengan Belanda, hal inilah yang membuat hubungannya dengan para Ulama memburuk.
Sebelum melakukan pembantaian dia sempat membunuh Pangeran Alit yang jadi pesaingnya dalam meraih tahta Kerajaan Mataram. Setelah berhasil menyingkirkan saudaranya itu dia lalu membuat daftar para ulama yang dianggap punya hubungan dengan mendiang saudaranya.
Para ulama ini kemudian dikumpulkan di alun-alun Plered untuk dibantai pada tahun 1647. Sekitar 5-6 ribu orang dibunuh pada peristiwa itu.
2. Sultan Agung
Kembali dari Kerajaan Mataram, kini ada nama Sultan Agung yang memerintah pada 1613-1645 sebelum masa Amangkurat I. Pada tahun 1628 Sultan Agung berencana untuk menyerang Batavia yang kala itu dikuasai Belanda.
Namun serangannya ini tak berhasil, bahkan pasukannya dipukul mundur oleh tentara Belanda. Alhasil dua panglima pimpinan penyerbuan tersebut, Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja dipenggal kepalanya karena telah gagal.
Baca juga : 4 Raja Nusantara yang Kesaktiannya Melegenda, Nomor Terakhir Bisa Melihat Masa Depan
Sebelum melakukan pembantaian dia sempat membunuh Pangeran Alit yang jadi pesaingnya dalam meraih tahta Kerajaan Mataram. Setelah berhasil menyingkirkan saudaranya itu dia lalu membuat daftar para ulama yang dianggap punya hubungan dengan mendiang saudaranya.
Para ulama ini kemudian dikumpulkan di alun-alun Plered untuk dibantai pada tahun 1647. Sekitar 5-6 ribu orang dibunuh pada peristiwa itu.
2. Sultan Agung
Kembali dari Kerajaan Mataram, kini ada nama Sultan Agung yang memerintah pada 1613-1645 sebelum masa Amangkurat I. Pada tahun 1628 Sultan Agung berencana untuk menyerang Batavia yang kala itu dikuasai Belanda.
Namun serangannya ini tak berhasil, bahkan pasukannya dipukul mundur oleh tentara Belanda. Alhasil dua panglima pimpinan penyerbuan tersebut, Tumenggung Bahureksa dan Pangeran Mandurareja dipenggal kepalanya karena telah gagal.
Baca juga : 4 Raja Nusantara yang Kesaktiannya Melegenda, Nomor Terakhir Bisa Melihat Masa Depan
Lihat Juga :