Ketua Koperasi Peternak Unggas di Jateng Akui NFA Jadi Penolong
Sabtu, 10 Desember 2022 - 18:11 WIB
Suwardi mengatakan, pihaknya telah menyerap jagung dari Bima dan Dompu, NTB, sebanyak 547 ton pada rentang 26 November hingga 8 Desember 2022. "Sekarang harga jagung di NTB sudah membaik, yakni Rp3.800. Memang belum sesuai harga acuan, tapi dampaknya sangat dirasakan petani," ujar Suwardi.
Dia menilai fasilitasi NFA itu sudah berubah menjadi business to business. Petani jagung dan peternak ayam petelur sama-sama diuntungkan. Karena proses jual-beli bisa dilakukan secara langsung. Tidak ada lagi perantara yang mengutip margin keuntungan. Rantai pasok lebih pendek.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Abdul Azis mengakui NFA mempertemukan antara asosiasi peternak dari luar daerah dengan asosiasi petani jagung di wilayahnya. Hasilnya, 500 ton dari 600 ton jagung yang diproduksi di NTB berhasil diserap pasar.
Dia mengamini pernyataan Suwardi. "Sehingga harga yang diharapkan petani, kendati belum seperti yang ditetapkan Badan Pangan Nasional, tetapi sudah jauh lebih baik," katanya.
Menurut Azis, cara seperti itu cukup membantu petani. Aziz menjelaskan, NTB surplus produksi jagung dan beras. Pada saat panen, kata dia, harga seringkali jatuh.
"Gabah dan jagung ini pada saat panen raya di Sumbawa selalu ribut, harganya jatuh di bawah HPP. Kebanyakan (petani) menyalahkan kita. Ini selalu jadi pikiran saya," imbuhnya.
Diakui Aziz, hadirnya NFA tak ubahnya dewa penolong. NFA antara lain memberikan bantuan infrastruktur penyimpanan daging beku.
Ada pelatihan petani cabe dan bawang. Bulog juga membangun silo untuk menyimpan jagung dan gabah. "Sebelum NFA turun, saya kelabakan juga terkait dengan tuntutan masyarakat terkait stabilisasi harga jagung," ucapnya.
Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin berharap kinerja NFA ditingkatkan lagi. Untuk meningkatkan efektivitas stabilisasi pasokan dan harga pangan, kata dia, harus dilakukan integrasi antara kebijakan di sisi supply dengan demand.
Dia menilai fasilitasi NFA itu sudah berubah menjadi business to business. Petani jagung dan peternak ayam petelur sama-sama diuntungkan. Karena proses jual-beli bisa dilakukan secara langsung. Tidak ada lagi perantara yang mengutip margin keuntungan. Rantai pasok lebih pendek.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) Abdul Azis mengakui NFA mempertemukan antara asosiasi peternak dari luar daerah dengan asosiasi petani jagung di wilayahnya. Hasilnya, 500 ton dari 600 ton jagung yang diproduksi di NTB berhasil diserap pasar.
Dia mengamini pernyataan Suwardi. "Sehingga harga yang diharapkan petani, kendati belum seperti yang ditetapkan Badan Pangan Nasional, tetapi sudah jauh lebih baik," katanya.
Menurut Azis, cara seperti itu cukup membantu petani. Aziz menjelaskan, NTB surplus produksi jagung dan beras. Pada saat panen, kata dia, harga seringkali jatuh.
"Gabah dan jagung ini pada saat panen raya di Sumbawa selalu ribut, harganya jatuh di bawah HPP. Kebanyakan (petani) menyalahkan kita. Ini selalu jadi pikiran saya," imbuhnya.
Diakui Aziz, hadirnya NFA tak ubahnya dewa penolong. NFA antara lain memberikan bantuan infrastruktur penyimpanan daging beku.
Ada pelatihan petani cabe dan bawang. Bulog juga membangun silo untuk menyimpan jagung dan gabah. "Sebelum NFA turun, saya kelabakan juga terkait dengan tuntutan masyarakat terkait stabilisasi harga jagung," ucapnya.
Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin berharap kinerja NFA ditingkatkan lagi. Untuk meningkatkan efektivitas stabilisasi pasokan dan harga pangan, kata dia, harus dilakukan integrasi antara kebijakan di sisi supply dengan demand.
Lihat Juga :