Perang Bubat, Tragedi Berdarah dan Harga Diri Orang Sunda

Kamis, 13 Oktober 2022 - 05:30 WIB
Peperangan pun tidak bisa dihindari. Sebenarnya, lukisan atas peristiwa tersebut lebih tepat disebut tragedi berdarah pembantaian rombongan pengantin Kerajaan Sunda Galuh oleh tentara Majapahit, ketimbang disebut sebagai peperangan.

Dalam peristiwa itu, Raja Sunda Galuh, Prabu Maharaja Linggabuana Wisesa, permaisuri, pejabat-pejabat kerajaan, serta prajurit kerajaan gugur. Tragisnya lagi, putri Dyah Pithaloka Citrasemi akhirnya bunuh diri.

Baca: Kisah Prabu Siliwangi, Buyutnya Dihadang dan Dibunuh Gajah Mada di Perang Bubat

Tragedi berdarah pembantaian rombongan Kerajaan Sunda Galuh ini pun sampai kepada rakyat Sunda. Mereka semua sedih, raja yang bijaksana tewas dibunuh dengan cara yang sangat keji dan rendah tersebut oleh Majapahit.

Sebagai akibatnya, Gajah Mada langsung diasingkan dari kegiatan politik istana. Dia juga diberikan tanah di wilayah Madakaripura (Probolinggo). Inilah akhir riwayat Gajah Mada yang sangat terkenal tersebut.

Sementara itu, rakyat Sunda sangat dendam terhadap Majapahit. Di kalangan kerabat Kerajaan Sunda, diberlakukan peraturan esti larangan ti kaluaran yang salah satu isinya tidak boleh menikah dengan orang Majapahit.

Sumber tulisan:

1. Sri Wintala Achmad, Perang Bubat Hoax atau Fakta, Gegapedia, 2022.

2. Sri Wintala Achmad, Perang Bubat 1279 Saka, Araska Publisher, 2019.
(san)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!