Cerita Singa Betina Betawi yang Melegenda, Mulai Mpok Ris hingga Nyimas Melati
Selasa, 02 Agustus 2022 - 06:15 WIB
Pasca proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, rakyat Marunda banyak yang menjadi korban dalam mempertahankan kemerdekaan melawan pasukan NICA bersama tentara sekutu Inggris.
Dalam buku Beksi Maen Pukulan Khas Betawi, dua seniman Yahya Andi Saputra dan H Irwan Syafi’ie menuturkan hanya sedikit mengangkat tokoh wanita, salah satunya Mirah dari Marunda dan teman-teman wanita lainnya yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Karena keberaniannya membuat Mirah dijuluki Singa Betina dari Marunda.
Selain Mirah, ada juga Singa Betina Betawi yang jago “maen pukulan”. Dia adalah Nyi Mas Melati dari Tangerang. Di kota sebelah barat Jakarta ini, juga pada revolusi fisik tahun 1945 dia tidak gentar berada di garis depan melawan pasukan NICA.
Kemudian, ada pendekar wanita bernama Mpok Ris dari Cipondoh. Kisah Mpok Ris ini menjadi cikal bakal daerah Poris Pelawad di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.
Saat itu, kompeni menduduki wilayah Cipondoh dan Batu Ceper sebagai basis pergudangan. Untuk mengisi pergudangan, kompeni dan antek-anteknya kerap menjarah hasil pertanian masyarakat. Padahal, masyarakat Cipondoh yang notabene suku Betawi sangat mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian.
Dalam buku Beksi Maen Pukulan Khas Betawi, dua seniman Yahya Andi Saputra dan H Irwan Syafi’ie menuturkan hanya sedikit mengangkat tokoh wanita, salah satunya Mirah dari Marunda dan teman-teman wanita lainnya yang ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Karena keberaniannya membuat Mirah dijuluki Singa Betina dari Marunda.
Selain Mirah, ada juga Singa Betina Betawi yang jago “maen pukulan”. Dia adalah Nyi Mas Melati dari Tangerang. Di kota sebelah barat Jakarta ini, juga pada revolusi fisik tahun 1945 dia tidak gentar berada di garis depan melawan pasukan NICA.
Kemudian, ada pendekar wanita bernama Mpok Ris dari Cipondoh. Kisah Mpok Ris ini menjadi cikal bakal daerah Poris Pelawad di Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.
Saat itu, kompeni menduduki wilayah Cipondoh dan Batu Ceper sebagai basis pergudangan. Untuk mengisi pergudangan, kompeni dan antek-anteknya kerap menjarah hasil pertanian masyarakat. Padahal, masyarakat Cipondoh yang notabene suku Betawi sangat mengandalkan sektor pertanian sebagai mata pencaharian.
Lihat Juga :