Siasat Menyerah Panglima Wangkang Bikin Pasukan Belanda Pusing
Selasa, 26 Juli 2022 - 05:04 WIB
Dihimpun dari berbagai sumber, Panglima Wangkang berkali-kali memimpin pasukan menyerbu benteng Belanda di Banjarmasin. Meski selalu gagal karena tidak berimbangnya jumlah pasukan serta peralatan perang, namun Panglima Wangkang tidak menyerah.
Baru sekitar tahun1860, pasukan Wangkang berhasil memasuki benteng pertahanan Belanda di Banjarmasin. Dalam serangan ini, puluhan tentara Belanda tewas. Bahkan pembantaian terhadap tentara Belanda digambarkan seperti 'manangsang gadang', yang dalam bahasa Bakumpai berarti menebang pisang.
Dalam peperangan ini, pasukan Panglima Wangkang juga mendapatkan banyak senjata, diambil dari serdadu yang tewas. Tidak hanya itu yang membuat Belanda pusing. Panglima Wangkang juga disebut-sebut sebagai dalang pembunuhan Dokter Dilg di atas kapal Onrust. Dendamnya terhadap Belanda, dia lampiaskan kapan saja dan di mana saja jika ada kesempatan.
Karena dirasa sangat berbahaya, pimpinan Belanda pun berusaha menangkapnya. Diumumkan, siapa saja yang mendapatkan Panglima Wangkang dalam keadaan hidup maupun sudah mati, akan mendapatkan hadiah uang banyak.
Dalam suasana pengejaran itu, Panglima Wangkang dikabarkan akan menyerahkan diri kepada Belanda. Kabar ini merupakan berita gembira bagi Belanda. Disebutkan, pada September 1864, kabar ini pertama kali sampai ke telinga pejabat-pejabat Belanda di Banjarmasin. K.W. Tiedtke, Asisten Residen di Muara Montallat menyampaikan bahwa beberapa pemimpin perlawanan dari daerah-daerah Lahei dan Teweh bermaksud untuk menyerah.
Selain itu, Tiedtke juga menyampaikan bahwa Panglima Wangkang juga akan menyerah. Namun, Wangkang mengajukan persyaratan agar dirinya mendapat pengampunan dari pemerintah Belanda di Batavia atas aksi berontak dan balas dendamnya.
Hasil negosiasi dengan K.W. Tiedtke, Wangkang diijinkan tinggal di Marabahan sambil menunggu pemberian ampunan dari Gubernemen di Batavia.
Baru sekitar tahun1860, pasukan Wangkang berhasil memasuki benteng pertahanan Belanda di Banjarmasin. Dalam serangan ini, puluhan tentara Belanda tewas. Bahkan pembantaian terhadap tentara Belanda digambarkan seperti 'manangsang gadang', yang dalam bahasa Bakumpai berarti menebang pisang.
Dalam peperangan ini, pasukan Panglima Wangkang juga mendapatkan banyak senjata, diambil dari serdadu yang tewas. Tidak hanya itu yang membuat Belanda pusing. Panglima Wangkang juga disebut-sebut sebagai dalang pembunuhan Dokter Dilg di atas kapal Onrust. Dendamnya terhadap Belanda, dia lampiaskan kapan saja dan di mana saja jika ada kesempatan.
Karena dirasa sangat berbahaya, pimpinan Belanda pun berusaha menangkapnya. Diumumkan, siapa saja yang mendapatkan Panglima Wangkang dalam keadaan hidup maupun sudah mati, akan mendapatkan hadiah uang banyak.
Dalam suasana pengejaran itu, Panglima Wangkang dikabarkan akan menyerahkan diri kepada Belanda. Kabar ini merupakan berita gembira bagi Belanda. Disebutkan, pada September 1864, kabar ini pertama kali sampai ke telinga pejabat-pejabat Belanda di Banjarmasin. K.W. Tiedtke, Asisten Residen di Muara Montallat menyampaikan bahwa beberapa pemimpin perlawanan dari daerah-daerah Lahei dan Teweh bermaksud untuk menyerah.
Selain itu, Tiedtke juga menyampaikan bahwa Panglima Wangkang juga akan menyerah. Namun, Wangkang mengajukan persyaratan agar dirinya mendapat pengampunan dari pemerintah Belanda di Batavia atas aksi berontak dan balas dendamnya.
Hasil negosiasi dengan K.W. Tiedtke, Wangkang diijinkan tinggal di Marabahan sambil menunggu pemberian ampunan dari Gubernemen di Batavia.
Lihat Juga :