Kualitas Udara Jabodetabek Pagi Hari Ternyata Tidak Baik, Bukan Waktunya Berolahraga
Rabu, 02 Maret 2022 - 17:57 WIB
Data Scientist dari Nafas Prabu Setyaji menambahkan, bagi seseorang yang berumur antara 35-45 tahun yang berolahraga pada pagi hari saat kadar PM2.5 > 26 µ/m3 justru berbahaya karena berisiko menimbulkan penyakit jantung. Sebagai catatan, ambang batas aman menurut WHO (2021) adalah PM2.5 = 5 µ/m3. “Bisa meningkatkan risiko penyakit jantung sebesar 33%,” katanya.
Menurut dia, kualitas udara paling baik di Jabotabek justru terjadi pada jam 14.00. Kualitas udara semakin membaik ketika terjadi hujan besar yang disertai angin kencang hingga ekstrim.
Sementara Community Manager Bicara Udara Novita Natalia mengatakan, hasil riset Nafas yang menunjukkan bahwa masih banyak salah kaprah dari masyarakat terkait kualitas udara beserta mitos-mitos yang selama ini sering didengar, menunjukkan makin kebutuhan edukasi mengenai isu ini.
Baca juga: Perbaiki Kualitas Udara, Ini 7 Rencana Aksi yang Disiapkan DKI
“Kami sebagai komunitas yang fokus pada edukasi mengenai pentingnya peningkatan kualitas udara sangat senang dengan adanya riset yang dilakukan Nafas. Riset ini sekaligus menjadi indikasi betapa pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat agar upaya bersama untuk mewujudkan kualitas udara yang lebih baik bisa terwujud,” tandasnya.
Di sisi lain, kualitas udara di area hijau yang banyak tumbuh pepohonan, juga ternyata tidak selalu bersih atau bebas dari polusi udara, khususnya yang disebabkan oleh polutan berukuran sangat kecil (PM2.5). Tiga wilayah yang dinilai kualitas udaranya belum baik yakni Bumi Serpong Damai (BSD), Cibinong, dan Sentul City.
Menurut dia, kualitas udara paling baik di Jabotabek justru terjadi pada jam 14.00. Kualitas udara semakin membaik ketika terjadi hujan besar yang disertai angin kencang hingga ekstrim.
Sementara Community Manager Bicara Udara Novita Natalia mengatakan, hasil riset Nafas yang menunjukkan bahwa masih banyak salah kaprah dari masyarakat terkait kualitas udara beserta mitos-mitos yang selama ini sering didengar, menunjukkan makin kebutuhan edukasi mengenai isu ini.
Baca juga: Perbaiki Kualitas Udara, Ini 7 Rencana Aksi yang Disiapkan DKI
“Kami sebagai komunitas yang fokus pada edukasi mengenai pentingnya peningkatan kualitas udara sangat senang dengan adanya riset yang dilakukan Nafas. Riset ini sekaligus menjadi indikasi betapa pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat agar upaya bersama untuk mewujudkan kualitas udara yang lebih baik bisa terwujud,” tandasnya.
Di sisi lain, kualitas udara di area hijau yang banyak tumbuh pepohonan, juga ternyata tidak selalu bersih atau bebas dari polusi udara, khususnya yang disebabkan oleh polutan berukuran sangat kecil (PM2.5). Tiga wilayah yang dinilai kualitas udaranya belum baik yakni Bumi Serpong Damai (BSD), Cibinong, dan Sentul City.
Lihat Juga :