Sumpah Sabda Palon dan Malapetaka di Tanah Jawa

Sabtu, 18 Desember 2021 - 07:26 WIB
Di kalangan spiritualis Jawa pada umumnya, keberadaan Semar diyakini berupa ”suara tanpa rupa”.

Secara khusus bagi yang memahami lebih dalam lagi, keberadaan Semar diyakini dengan istilah “mencolo putro, mencolo putri”, artinya dapat mewujud dan menyamar sebagai manusia biasa dalam wujud berlainan di setiap masa.

Nama Sabda Palon juga disebut dalam Serat Jangka Jayabaya pujangga Ronggowarsito. Dimana dia bersumpah akan muncul kembali sebagai ‘Pamomong tanah Jawa’ setelah 500 tahun runtuhnya kerajaan Majapahit.

Sumpah itu dia sebutkan sebelum berpisah dengan Prabu Brawijaya V. Kedekatan sang penasihat spritual ini dengan Raja Brawijaya V akhirnya berakhir saat sang raja memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Salah satu syairnya atau pupuhnya memuat ramalan tentang kehancuran Islam di tanah Jawa dan adanya malapetaka pasca 500 tahun keruntuhan Majapahit.

Dalam Serat Sabda Palon, ramalan kehancuran Islam ditulis dalam pupuh, Pepesthene nusa tekan janji, yen wus jangkep limang atus warsa, kepetung jaman Islame, musna bali marang ingsun, gami Budi madeg sawiji(Takdir nusa sampai kepada janji, jka sudah genap lima ratus tahun, terhitung zaman Islam, musnah kembali kepadaku, Agama Budi berdiri menjadi satu).

Selain itu dalam Serat Sabda Palon, kemunculannya akan ditandai dengan beberapa kejadian alam diantaranya meletusnya Gunung Merapi. Kula damel pratandha, pratandha tembayan mami hardi Mrapi yen wus jeblug mili lahar(saya akan membuat pertanda, sebagai janji teguh saya apabila gunung Merapi sudah meletus mengeluarkan lahar) ini disebutkan dalam pupuh 5.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!