Sultanah Malikah Nahrasiyah, Ratu Samudera Pasai yang Gentarkan Asia Tenggara
Sabtu, 20 November 2021 - 06:51 WIB
Di bawah kepemimpinan Sultanah Malikah Nahrasiyah, Samudera Pasai mengalami kemajuan pesat dan menjadi kerajaan yang mampu mengendalikan ekonomi di wilayah Asia Tenggara. Koin emas menjadi mata uang selain dinar.
Setelah 24 tahun memerintah, Ratu Nahrasiyah wafat pada 128 Masehi. Jasadnya dimakamkan berdampingan dengan makam sang ayah, Sultan Zainal Abidin di kompleks pemakaman Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.
Baca juga: Dyah Wiyat, Kisah Cinta Segitiga dan Perselingkuhan di Kerajaan Majapahit
Lokasinya sekitar 18 km sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Makam Ratu Nahrasiyah berada di kompleks II (Kuta Karang), dan tidak jauh dari makam Sultan Malikussaleh. Konon, kompleks makam Ratu Nahrasiyah terindah disebut-sebut Asia Tenggara.
Di antaranya diketahui dari nisan Ratu Nahrasiyah dengan tulisan aksara Arab berbahasa Arab dan Melayu Kuno dengan khat Kufi atau kaligrafi Arab tertua.
Dalam nisan tersebut tertulis “Inilah kubur wanita yang bercahaya yang suci, Ratu yang terhormat, Almarhumah yang diampunkan dosanya Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin putra Sultan Ahmad putra Sultan Muhammad putra Sultan Malik As-Shaleh. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya, mangkat dengan rahmat Allah pada hari Senin 17 Dzulhijah 831 H/ 1428”.
Tak ketinggalan, pada nissan Ratu Nahrasiyah juga ditemukan tulisan ayat Kursi, surah Yasin, kalimat Syahadat, penggalan surah Ali Imran ayat 18-19 dan surah Al Baqarah ayat 285-286.
Sementara dalam bukunya, De Grafsteenen Te Pase En Grissee Verge Liken Met Dergelijke Mo Menten Uit Hindoestan, JP Moquette menulis Sultanah Malikah Nahrasiyah meninggal pada 27 September 1428 M.
Dia menyebut Sultanah Malikah Nahrasiyah merupakan Ratu Pasai keturunan Malik As-Shalih. Selain itu sosok perempuan yang mengendalikan Samudera Pasai ini dikenal sebagai Malikah Muazzamah atau ratu yang dipertuan agung.
Setelah 24 tahun memerintah, Ratu Nahrasiyah wafat pada 128 Masehi. Jasadnya dimakamkan berdampingan dengan makam sang ayah, Sultan Zainal Abidin di kompleks pemakaman Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara.
Baca juga: Dyah Wiyat, Kisah Cinta Segitiga dan Perselingkuhan di Kerajaan Majapahit
Lokasinya sekitar 18 km sebelah Timur Kota Lhokseumawe. Makam Ratu Nahrasiyah berada di kompleks II (Kuta Karang), dan tidak jauh dari makam Sultan Malikussaleh. Konon, kompleks makam Ratu Nahrasiyah terindah disebut-sebut Asia Tenggara.
Di antaranya diketahui dari nisan Ratu Nahrasiyah dengan tulisan aksara Arab berbahasa Arab dan Melayu Kuno dengan khat Kufi atau kaligrafi Arab tertua.
Dalam nisan tersebut tertulis “Inilah kubur wanita yang bercahaya yang suci, Ratu yang terhormat, Almarhumah yang diampunkan dosanya Nahrasiyah, putri Sultan Zainal Abidin putra Sultan Ahmad putra Sultan Muhammad putra Sultan Malik As-Shaleh. Kepada mereka itu dicurahkan rahmat dan diampunkan dosanya, mangkat dengan rahmat Allah pada hari Senin 17 Dzulhijah 831 H/ 1428”.
Tak ketinggalan, pada nissan Ratu Nahrasiyah juga ditemukan tulisan ayat Kursi, surah Yasin, kalimat Syahadat, penggalan surah Ali Imran ayat 18-19 dan surah Al Baqarah ayat 285-286.
Sementara dalam bukunya, De Grafsteenen Te Pase En Grissee Verge Liken Met Dergelijke Mo Menten Uit Hindoestan, JP Moquette menulis Sultanah Malikah Nahrasiyah meninggal pada 27 September 1428 M.
Dia menyebut Sultanah Malikah Nahrasiyah merupakan Ratu Pasai keturunan Malik As-Shalih. Selain itu sosok perempuan yang mengendalikan Samudera Pasai ini dikenal sebagai Malikah Muazzamah atau ratu yang dipertuan agung.
Lihat Juga :