Anies Baca Buku Perintis Kemerdekaan usai Pidato Kenegaraan Presiden dalam Sidang Tahunan MPR
Senin, 16 Agustus 2021 - 15:15 WIB
Anies membagikan momen kegiatan dirinya saat menunggu dimulainya Sidang Tahunan DPR setelah mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden dalam Sidang Tahunan MPR. Foto: IG
JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membagikan momen kegiatan dirinya saat menunggu dimulainya Sidang Tahunan DPR setelah mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden Joko Widodo dalam Sidang Tahunan MPR di gedung MPR/DPR, Senin (16/8/2021).
"Pagi tadi di jeda antara dua sidang: setelah mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden di Sidang Tahunan MPR, dan menunggu dimulainya Sidang Tahunan DPR, menyusuri kembali deretan buku-buku pemikiran para perintis kemerdekaan yang ada di perpustakan rumah," ujar Anies membuka ceritanya di akun media sosialnya.
Baca juga: Unik dan Sarat Filosofi, Tas Koja Presiden Jokowi di Sidang Tahunan MPR Curi Perhatian
Para Perintis Kemerdekaan, lanjut Anies, adalah intelektual pejuang. Mereka bekerja dengan memiliki pemikiran yang matang. Semua punya gagasan. Artikulasi dalam lisan dan tulisan mencerminkan bobot keterbukaan dan keluasan pandangan.
"Menariknya, mereka berlatarbelakang keluarga papan atas di masa kolonial, sehingga dapat kesempatan sekolah, tapi mereka memilih untuk mendirikan sebuah republik yang bukan hanya untuk kaum papan atas. Mendirikan republik yang memberikan kesempatan setara pada siapa saja," tandasnya.
Baca juga: Unik dan Sarat Filosofi, Tas Koja Presiden Jokowi di Sidang Tahunan MPR Curi Perhatian
"Pagi tadi di jeda antara dua sidang: setelah mendengarkan Pidato Kenegaraan Presiden di Sidang Tahunan MPR, dan menunggu dimulainya Sidang Tahunan DPR, menyusuri kembali deretan buku-buku pemikiran para perintis kemerdekaan yang ada di perpustakan rumah," ujar Anies membuka ceritanya di akun media sosialnya.
Baca juga: Unik dan Sarat Filosofi, Tas Koja Presiden Jokowi di Sidang Tahunan MPR Curi Perhatian
Para Perintis Kemerdekaan, lanjut Anies, adalah intelektual pejuang. Mereka bekerja dengan memiliki pemikiran yang matang. Semua punya gagasan. Artikulasi dalam lisan dan tulisan mencerminkan bobot keterbukaan dan keluasan pandangan.
"Menariknya, mereka berlatarbelakang keluarga papan atas di masa kolonial, sehingga dapat kesempatan sekolah, tapi mereka memilih untuk mendirikan sebuah republik yang bukan hanya untuk kaum papan atas. Mendirikan republik yang memberikan kesempatan setara pada siapa saja," tandasnya.
Baca juga: Unik dan Sarat Filosofi, Tas Koja Presiden Jokowi di Sidang Tahunan MPR Curi Perhatian
Lihat Juga :