Yogya Tidak Pernah Menyerah Melawan COVID-19
Rabu, 11 Agustus 2021 - 08:10 WIB
“Telah dimulai juga vaksinasi dosis ketiga untuk tenaga kesehatan sebanyak 2.474 orang atau 7,32%,” tambah Pembajun. Hal tersebut juga dibarengi dengan peningkatan tracing dan testing, dimana per 8 Agustus angka rasio mencapai 4,6 dari sejumlah 1.194 kasus konfirmasi dan 6.011 tracing-testing.
“Prosentase penggunaan metode PCR di DIY cukup tinggi mencapai 67,7%,”kata Pembajun. Namun kondisi tersebut disayangkan oleh Pembajun masih belum merata di semua kabupaten/kota. “Di kabupaten Gunung Kidul penggunaan swab antigen masih lebih tinggi,” tambahnya.
Pembajun sendiri optimis, khususnya dengan karakter “gotong-royong” yang dimiliki masyarakat DIY dapat menjadi akselerator pemulihan pandemi. Namun pihaknya mengakui menemui ganjalan dari sisi banyaknya informasi hoax yang diterima oleh masyarakat.
“Informasi hoax, tidak akurat, serta tidak jelas kredibilitas sumbernya membuat masyarakat bimbang dan ketakutan. Akibatnya masih ada yang ragu untuk lapor sehingga seharusnya dapat ditangani di rumah sakit atau dibawa untuk isolasi mandiri (Isoman) ke shelter,” terangnya lagi.
Per 8 Agustus, keterisian bed RS rujukan di DIY sendiri mengalami perbaikan dimana mencapai 74,38% meliputi BOR crititcal (ICU) 64,47% dan BOR isolasi 76,54%.
“Selain itu dengan adanya informasi yang salah, membuat orang tidak mau atau takut divaksin, padahal vaksin menjadi salah satu kunci sukses penurunan kasus kematian selain penerapan protokol kesehatan tentunya,”pungkasnya.
Sementara itu dalam kesempatan yang berbeda, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DIY, Rony Primanto mengatakan hoax memang menjadi hambatan dalam penanganan pandemi.
“Pandangan masyarakat tentang penanganan COVID menjadi banyak yang salah. Seperti tidak mau divaksin, jaga jarak, memakai masker menjadi satu masalah yang serius,”tambahnya.
Oleh karena itu pihaknya semakin intens dalam mempublikasikan klarifikasi-klarifikasi terkait berita hoax yang tersebar ditengah-tengah masyarakat.
“Prosentase penggunaan metode PCR di DIY cukup tinggi mencapai 67,7%,”kata Pembajun. Namun kondisi tersebut disayangkan oleh Pembajun masih belum merata di semua kabupaten/kota. “Di kabupaten Gunung Kidul penggunaan swab antigen masih lebih tinggi,” tambahnya.
Pembajun sendiri optimis, khususnya dengan karakter “gotong-royong” yang dimiliki masyarakat DIY dapat menjadi akselerator pemulihan pandemi. Namun pihaknya mengakui menemui ganjalan dari sisi banyaknya informasi hoax yang diterima oleh masyarakat.
“Informasi hoax, tidak akurat, serta tidak jelas kredibilitas sumbernya membuat masyarakat bimbang dan ketakutan. Akibatnya masih ada yang ragu untuk lapor sehingga seharusnya dapat ditangani di rumah sakit atau dibawa untuk isolasi mandiri (Isoman) ke shelter,” terangnya lagi.
Per 8 Agustus, keterisian bed RS rujukan di DIY sendiri mengalami perbaikan dimana mencapai 74,38% meliputi BOR crititcal (ICU) 64,47% dan BOR isolasi 76,54%.
“Selain itu dengan adanya informasi yang salah, membuat orang tidak mau atau takut divaksin, padahal vaksin menjadi salah satu kunci sukses penurunan kasus kematian selain penerapan protokol kesehatan tentunya,”pungkasnya.
Sementara itu dalam kesempatan yang berbeda, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DIY, Rony Primanto mengatakan hoax memang menjadi hambatan dalam penanganan pandemi.
“Pandangan masyarakat tentang penanganan COVID menjadi banyak yang salah. Seperti tidak mau divaksin, jaga jarak, memakai masker menjadi satu masalah yang serius,”tambahnya.
Oleh karena itu pihaknya semakin intens dalam mempublikasikan klarifikasi-klarifikasi terkait berita hoax yang tersebar ditengah-tengah masyarakat.
Lihat Juga :