Menyedihkan, Pasutri Aktivis Kemanusiaan Meninggal Dunia Terpapar COVID-19
Minggu, 01 Agustus 2021 - 13:40 WIB
Tentu saja, kabar meninggalnya pasangan yang aktif dalam kegiatan kemanusiaan ini menjadi duka mendalam, khususnya di kalangan Pondok Pesantren Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan. Terlebih, Gus Amir merupakan salah satu putra kiai ternama di Lamongan, yakni Abdullah Muchtar. Gus Amir dimakamkan di makan Desa/Kecamatan Turi, Kabupaten Lamongan, tadi malam.
Gus Amir dikenal sebagai sosok kiai dan aktivis kemanusiaan. Ia telah banyak mendirikan rumah tamping bagi penyandang masalah sosial, mulai dari anak jalanan hingga anak yatim. Ia juga konsen di dunia pendidikan dan menjadi salah satu pemilik lembaga Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.
Beberapa aktivitas sosialnya, ia pernah menjadi penggagas gerakan penyelamatan korban Tsunami di Aceh tahun 2004 silam. Sebelumnya, ia juga telah mendirikan pondok sadar bagi kalangan anak jalanan di 13 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Gus Amir juga menjadi pendiri dan pelopor panti yatim dan lansia di Vila Durian Yatim Sejahtera Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Tak hanya itu, Gus Amir juga selalu konsen untuk ikut menyelesaikan konflik-konflik sosial. Diantaranya kejadian konflik suku Dayak dan Madura di Sambas, Kalimantan Barat. ”Gus Amir ikut melakukan pemulangan suku Madura dan penyelamatan korban konflik ini,” terang Muhammad Mukhiddin, pengasuh pondok yatim Vila Durian Yartim Sejahtera, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Dikatakan, sebagai salah satu putra kiai ternama di Kabupaten Lamongan, Gus Amir selalu menampakkan sikap kesederhanaan. Bahkan, ia selalu berupa mendekatkan diri dengan kelompok masyarakat dengan masalah sosial. ”Tak jarang beliau mbecak (mengayuh becak) untuk lebih dekat dengan tukang becak. Dari sana, beliau bisa membaca masalah sosialnya dan bergerak untuk menangani,” kenang Gus Mukhiddin, sapaan akrab Muhammad Mukhiddin.
Gus Amir dikenal sebagai sosok kiai dan aktivis kemanusiaan. Ia telah banyak mendirikan rumah tamping bagi penyandang masalah sosial, mulai dari anak jalanan hingga anak yatim. Ia juga konsen di dunia pendidikan dan menjadi salah satu pemilik lembaga Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri, Jawa Timur.
Beberapa aktivitas sosialnya, ia pernah menjadi penggagas gerakan penyelamatan korban Tsunami di Aceh tahun 2004 silam. Sebelumnya, ia juga telah mendirikan pondok sadar bagi kalangan anak jalanan di 13 kabupaten dan kota di Jawa Timur. Gus Amir juga menjadi pendiri dan pelopor panti yatim dan lansia di Vila Durian Yatim Sejahtera Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Tak hanya itu, Gus Amir juga selalu konsen untuk ikut menyelesaikan konflik-konflik sosial. Diantaranya kejadian konflik suku Dayak dan Madura di Sambas, Kalimantan Barat. ”Gus Amir ikut melakukan pemulangan suku Madura dan penyelamatan korban konflik ini,” terang Muhammad Mukhiddin, pengasuh pondok yatim Vila Durian Yartim Sejahtera, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto.
Dikatakan, sebagai salah satu putra kiai ternama di Kabupaten Lamongan, Gus Amir selalu menampakkan sikap kesederhanaan. Bahkan, ia selalu berupa mendekatkan diri dengan kelompok masyarakat dengan masalah sosial. ”Tak jarang beliau mbecak (mengayuh becak) untuk lebih dekat dengan tukang becak. Dari sana, beliau bisa membaca masalah sosialnya dan bergerak untuk menangani,” kenang Gus Mukhiddin, sapaan akrab Muhammad Mukhiddin.
Lihat Juga :