Banyak Pasien COVID-19 Isoman Meninggal Dunia, Ini Penyebabnya
Selasa, 27 Juli 2021 - 10:47 WIB
Dia menambahkan, rata-rata yang terjadi saat ini, orang yang isoman pada hari ke 6 tiba-tiba kondisi drop yang ditandai dengan menurunnya saturasi. Padahal selama isoman beberapa hari sebelumnya seperti tidak ada apa-apa. Pasien isoman perlu mendapat pengawasan. Sebab jika saturasi turun dan tidak segera ditangani dengan baik akan lebih berbahaya. Bahkan, kondisi saat ini banyak orang isoman dengan mengkonsumsi obat-obatan dari rekomendasi orang lain.
"Yang mengawasi pasien isoman harus tenaga medis. Pasien isoman tidak bisa diobati secara ngawur dari rekomendasi obat ABC. Padahal OTG (orang tanpa gejala) belum butuh antivirus, atau sebaliknya gejala sedang butuh obat tetapi tidak mendapatkan obat yang seharusnya,” katanya.
Menurutnya, jika pasien isoman merasa tidak bisa merawat diri dengan optimal sebaiknya segera datang ke RS lapangan atau karantina. Sehingga bisa mendapat pengawasan dari tenaga kesehatan. Pemerintah sendiri sudah banyak menyediakan tempat-tempat isolasi seperti RS Lapangan Indrapura, RS Lapangan Tembak, RS Lapangan di Gelora Bung Tomo dan lainnya.
“Rata-rata, pasien isoman yang kondisinya terlalu parah atau dengan saturasi oksigen di bawah 80 baru dibawa ke rumah sakit. Padahal dengan kondisi yang sudah drop lebih sulit untuk menolongnya," tandas Jibril.
Berdasarkan data di laman infocovid-19.jatimprov.go.id per 26 Juli 2021, tercatat jumlah kasus meninggal baru sebanyak 386 orang. Sehingga total kumulatif yang meninggal mencapai 18.899 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.664 orang meninggal akibat COVID-19, dan sebanyak 2.235 orang meninggal akibat memiliki komorbid sekaligus positif COVID-19.
"Yang mengawasi pasien isoman harus tenaga medis. Pasien isoman tidak bisa diobati secara ngawur dari rekomendasi obat ABC. Padahal OTG (orang tanpa gejala) belum butuh antivirus, atau sebaliknya gejala sedang butuh obat tetapi tidak mendapatkan obat yang seharusnya,” katanya.
Menurutnya, jika pasien isoman merasa tidak bisa merawat diri dengan optimal sebaiknya segera datang ke RS lapangan atau karantina. Sehingga bisa mendapat pengawasan dari tenaga kesehatan. Pemerintah sendiri sudah banyak menyediakan tempat-tempat isolasi seperti RS Lapangan Indrapura, RS Lapangan Tembak, RS Lapangan di Gelora Bung Tomo dan lainnya.
“Rata-rata, pasien isoman yang kondisinya terlalu parah atau dengan saturasi oksigen di bawah 80 baru dibawa ke rumah sakit. Padahal dengan kondisi yang sudah drop lebih sulit untuk menolongnya," tandas Jibril.
Berdasarkan data di laman infocovid-19.jatimprov.go.id per 26 Juli 2021, tercatat jumlah kasus meninggal baru sebanyak 386 orang. Sehingga total kumulatif yang meninggal mencapai 18.899 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 16.664 orang meninggal akibat COVID-19, dan sebanyak 2.235 orang meninggal akibat memiliki komorbid sekaligus positif COVID-19.
(msd)
Lihat Juga :