Dapat Bantuan, Porter Terminal Kampung Rambutan: Semoga MNC Peduli Banyak Rezeki

Jum'at, 21 Mei 2021 - 21:34 WIB
Sama halnya dengan Wajri B Sanadi (40). Dia pernah menjadi pedagang buah namun usahanya bangkrut sehingga Porter menjadi penghasilan utama guna menghidupi tiga anak dan istrinya di Bengkulu. "Saya merantau ke Jakarta bersama keluarga pernah dagang buah karena modalnya kosong, saya jadi Porter gak ada kerjaan lain dan keluarga balik ke Bengkulu," kata Wajri, Jumat (21/5/2021).

Pria kelahiran 1982 ini mengaku kehidupan Porter sangat keras karena sering bersinggungan dengan karyawan bus atau Porter lainnya. "Mereka (karyawan bus) mau manggul juga, karena penumpang sepi," ucap Wajri.

Selain porter, dia juga kerap kali melakukan pekerjaan serabutan seperti kuli bangunan yang bebas menyesuaikan tenaga. Saat ini ia mengontrak bersama teman Porter lainnya di RT 11/06 Kampung Rambutan sebesar Rp700 ribu/bulan.

Berbeda dengan Abdul Muthalib (60) yang menjadi porter selama tiga puluh tahun. Ia pun juga menumpang hidup di Terminal Kampung Rambutan. Alasannya menjadi porter karena kurangnya kemampuan dalam berbagai hal dan faktor umur juga menjadi kendala dalam mencari pekerjaan.

Setiap bulannya ia hanya bisa mendapatkan Rp1 juta namun karena pandemi dan larangan pulang kampung penghasilannya menurun menjadi Rp750 ribu per bulan. "Kadang-kadang dapet duit kadang enggak untuk makan aja enggak ada. Bisa kerja aja syukur daripada nganggur. Sehari paling dapet Rp50 ribu buat makan Rp30 ribu sisa Rp20 ribu," ujar Abdul.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!