Onde-Onde Ketawa Asal Kota Mojokerto Bangkit dari Dampak Pandemi COVID-19
Jum'at, 13 November 2020 - 20:31 WIB
"Sejak bulan Maret hingga April kemarin omzet kita menurun jutaan rupiah. Dari biasanya dalam sebulan Rp15 juta omzetnya, anjlok menjadi Rp 2 juta saja tiap bulannya," ujarnya, Jumat, (13/11/2020). (BACA JUGA: Resep dan Cara Membuat Onde-Onde Cookies untuk si Kecil)
Ibu dua anak ini menyebut, menurunnya omzet tersebut lantaran adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pemerintah saat mewabahnya virus mematikan tersebut di Indonesia. Akibatnya toko menjadi sepi pembeli, jumlah produksi pun semakin merosot.
"Awal-awal corona, onde-onde kita banyak yang diretur oleh toko-toko langganan kita. Alasannya ya karena toko sepi pembeli, sehingga mereka banyak yang tutup," keluhnya.
Wanita berusia 50 tahun ini menuturkan, usahanya baru bergeliat lagi sejak dua bulan terakhir. Tunik mengaku dalam sehari, dirinya dan suami bisa memproduksi onde-onde kering tersebut hingga 10 kilogram.
"Ini sudah lumayan lagi, omzet kita merangkak pulih pelan-pelan. Sehari kita bisa produksi 10 hingga 15 kilogram," paparnya.
Wanita yang hanya memiliki satu anak ini, menyebut pulihnya usahanya lantaran adanya pemerintah daerah. Lantaran selain mendapatkan bantuan modal dan pendampingan, ia juga mendapat bantuan pemasaran ke toko-toko tradisional dan juga toko modern. (BACA JUGA: Ada 5.000 Layah, Ribuan Warga Mojokerto Rebutan Onde-Onde)
Ibu dua anak ini menyebut, menurunnya omzet tersebut lantaran adanya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diberlakukan pemerintah saat mewabahnya virus mematikan tersebut di Indonesia. Akibatnya toko menjadi sepi pembeli, jumlah produksi pun semakin merosot.
"Awal-awal corona, onde-onde kita banyak yang diretur oleh toko-toko langganan kita. Alasannya ya karena toko sepi pembeli, sehingga mereka banyak yang tutup," keluhnya.
Wanita berusia 50 tahun ini menuturkan, usahanya baru bergeliat lagi sejak dua bulan terakhir. Tunik mengaku dalam sehari, dirinya dan suami bisa memproduksi onde-onde kering tersebut hingga 10 kilogram.
"Ini sudah lumayan lagi, omzet kita merangkak pulih pelan-pelan. Sehari kita bisa produksi 10 hingga 15 kilogram," paparnya.
Wanita yang hanya memiliki satu anak ini, menyebut pulihnya usahanya lantaran adanya pemerintah daerah. Lantaran selain mendapatkan bantuan modal dan pendampingan, ia juga mendapat bantuan pemasaran ke toko-toko tradisional dan juga toko modern. (BACA JUGA: Ada 5.000 Layah, Ribuan Warga Mojokerto Rebutan Onde-Onde)
Lihat Juga :