Melihat Wisata Kampung Cokelat Blitar yang Mulai Menggeliat
Selasa, 03 November 2020 - 19:06 WIB
Wisata Kampung Cokelat berdiri sejak tahun 2014. Sejak awal berdiri, pemilik wisata telah bersepakat menyerahkan semua urusan parkir pengunjung wisata kepada warga. Setiap warga yang memiliki lahan cukup luas, dibolehkan membuka area parkir. Pengelola wisata tidak meminta bagian sepeserpun. "Sejak itu warga yang bertempat tinggal di area wisata ramai ramai membuka parkiran," papar Fauzi.
Dengan adanya pandemi COVID-19, paceklik ekonomi telah melanda. Kesulitan tersebut mulai dirasakan sejak pemerintah menyatakan COVID-19 masuk Indonesia. Seingat Fauzi mulai bulan Maret. Tingkat kunjungan Kampung Cokelat terus menurun. Puncaknya ketika pemerintah menyatakan menutup semua tempat wisata. Seluruh warga Plosorejo yang hidup dari parkir, kelimpungan.
"Kami yang biasanya setiap hari mendapat pemasukan Rp 600 ribu-Rp 1,5 juta, gara gara wisata ditutup, tidak ada penghasilan sama sekali," kenang Fauzi yang memiliki dua anak dengan si sulung duduk di bangku setingkat SMA. Warga yang sebelumnya bermata pencaharian petani inginnya kembali ke sawah. Namun karena terlanjur mengandalkan parkiran serta jualan makanan dan minuman, kata Fauzi sebagian besar sawah telah disewakan.
Bahkan tidak sedikit sawah yang diubah menjadi lahan parkir. "Saya juga termasuk di dalamnya. Luas area parkir yang saya punyai cukup untuk 25 roda empat termasuk bus," tambah Fauzi. Untuk bertahan hidup tidak sediki warga yang terpaksa berhutang. Dengan harapan pemerintah bisa membuka kembali wisata. Menurut Fauzi, ada yang bertahan dengan uang tabungan.
"Namun itu (uang tabungan) tidak cukup. Selama tiga bulan penuh, kami tidak ada pemasukan sama sekali," kata Fauzi. Pada bulan Juli, wisata Kampung Cokelat kembali dibuka dengan memberlakukan protokol kesehatan secara ketat. Kendati demikian belum bisa mengembalikan kunjungan. Yakni sebelum pandemi, rata rata 800-2000 orang per hari dan 4000-6000 orang pada saat week end.
Sepengetahuan Fauzi, dibukanya kembali wisata Kampung Cokelat berkat lobi owner (Wisata Kampung Cokelat) kepada kepala daerah setempat. "Namun meski begitu tingkat kunjungan belum normal. Karena masih banyak warga dari luar daerah yang takut datang," papar Fauzi. Mulai bulan Oktober, kunjungan dari luar daerah mulai ramai. Namun mayoritas masih kendaraan pribadi. Sebagian besar masih warga eks karsidenan Kediri.
Dengan adanya pandemi COVID-19, paceklik ekonomi telah melanda. Kesulitan tersebut mulai dirasakan sejak pemerintah menyatakan COVID-19 masuk Indonesia. Seingat Fauzi mulai bulan Maret. Tingkat kunjungan Kampung Cokelat terus menurun. Puncaknya ketika pemerintah menyatakan menutup semua tempat wisata. Seluruh warga Plosorejo yang hidup dari parkir, kelimpungan.
"Kami yang biasanya setiap hari mendapat pemasukan Rp 600 ribu-Rp 1,5 juta, gara gara wisata ditutup, tidak ada penghasilan sama sekali," kenang Fauzi yang memiliki dua anak dengan si sulung duduk di bangku setingkat SMA. Warga yang sebelumnya bermata pencaharian petani inginnya kembali ke sawah. Namun karena terlanjur mengandalkan parkiran serta jualan makanan dan minuman, kata Fauzi sebagian besar sawah telah disewakan.
Bahkan tidak sedikit sawah yang diubah menjadi lahan parkir. "Saya juga termasuk di dalamnya. Luas area parkir yang saya punyai cukup untuk 25 roda empat termasuk bus," tambah Fauzi. Untuk bertahan hidup tidak sediki warga yang terpaksa berhutang. Dengan harapan pemerintah bisa membuka kembali wisata. Menurut Fauzi, ada yang bertahan dengan uang tabungan.
"Namun itu (uang tabungan) tidak cukup. Selama tiga bulan penuh, kami tidak ada pemasukan sama sekali," kata Fauzi. Pada bulan Juli, wisata Kampung Cokelat kembali dibuka dengan memberlakukan protokol kesehatan secara ketat. Kendati demikian belum bisa mengembalikan kunjungan. Yakni sebelum pandemi, rata rata 800-2000 orang per hari dan 4000-6000 orang pada saat week end.
Sepengetahuan Fauzi, dibukanya kembali wisata Kampung Cokelat berkat lobi owner (Wisata Kampung Cokelat) kepada kepala daerah setempat. "Namun meski begitu tingkat kunjungan belum normal. Karena masih banyak warga dari luar daerah yang takut datang," papar Fauzi. Mulai bulan Oktober, kunjungan dari luar daerah mulai ramai. Namun mayoritas masih kendaraan pribadi. Sebagian besar masih warga eks karsidenan Kediri.
Lihat Juga :