Cerita Punggung Kura-Kura dan Emak-Emak Ojol
Rabu, 21 Oktober 2020 - 11:18 WIB
“Kita akan kasih dia (penutup) tutup rambut, dan hand sanitizer buat tangannya. Soalnya kadang konsumen pegang uang juga kan. Takutnya juga tangannya pegang kepala atau mulut, nah kita kondisikan dengan hand sanitizer,” bebernya secara lengkap.
“Kalau kita pakai ini (penggung kura-kura) ya selama dapat konsumen Go-Ride. Tapi kalau dapat Go-Send, kita enggak bawa (pakai). Jadi kita taruh saja, lalu kalau ada customer baru kita balik pakai lagi,” ungkapnya.
Masa pandemi Covid-19 mulai sekira Maret 2020, membuat Purwanti harus meningkatkan imunitas tubuh dan memahami pola penularan virus Corona. Terlebih sebagai ojek online, pada awal masa pandemi sempat kebingungan untuk menerapkan protokol kesehatan.
“Kalau penurunan (penghasilan) ya ada sedikit, tapi sekarang sudah lumayan karena kita dikondisikan dengan J3K (Jaga Kesehatan, Kebersihan, dan Keamanan. Setiap pekan kita dites cek suhu badan, motor kita disterilkan, kita juga dijaga pakai ini (punggung kura-kura) juga hand sanitizer,” tutur dia.
“Alhamdulillah dengan adanya program J3K ini kita sangat terbantu. Gojek memberikan program-program, dalam arti kita biasanya enggak pernah dapat order, kini kita dikasih orderan. Jadi banyak permintaan customer,” tandas perempuan yang dua tahun ini melakoni profesi ojol. (Baca: Ekosistem Bisnis Ojek Online Lahirkan Ribuan UMKM di Semarang )
Seorang pelanggan ojek online, Enih Nurhaeni, mengaku nyaman dan aman dengan adanya sekat yang membatasi dirinya dengan pengemudi. Dengan sekat itu bisa mencegah kontak langsung sekaligus sebagai penghalang percikan air liur jika terjadi dialog.
“Kadang kita kan kalau di jalan juga ngobrol dengan driver (pengemudi), jadi sekat itu bisa mencegah terkena droplet (percikan air liur) karena tingginya di atas kepala. Ya kaya punggung kura-kura fungsinya, sebagai pelindung bagi kita konsumen dan ojol-nya,” terang Enih.
“Kalau kita pakai ini (penggung kura-kura) ya selama dapat konsumen Go-Ride. Tapi kalau dapat Go-Send, kita enggak bawa (pakai). Jadi kita taruh saja, lalu kalau ada customer baru kita balik pakai lagi,” ungkapnya.
Masa pandemi Covid-19 mulai sekira Maret 2020, membuat Purwanti harus meningkatkan imunitas tubuh dan memahami pola penularan virus Corona. Terlebih sebagai ojek online, pada awal masa pandemi sempat kebingungan untuk menerapkan protokol kesehatan.
“Kalau penurunan (penghasilan) ya ada sedikit, tapi sekarang sudah lumayan karena kita dikondisikan dengan J3K (Jaga Kesehatan, Kebersihan, dan Keamanan. Setiap pekan kita dites cek suhu badan, motor kita disterilkan, kita juga dijaga pakai ini (punggung kura-kura) juga hand sanitizer,” tutur dia.
“Alhamdulillah dengan adanya program J3K ini kita sangat terbantu. Gojek memberikan program-program, dalam arti kita biasanya enggak pernah dapat order, kini kita dikasih orderan. Jadi banyak permintaan customer,” tandas perempuan yang dua tahun ini melakoni profesi ojol. (Baca: Ekosistem Bisnis Ojek Online Lahirkan Ribuan UMKM di Semarang )
Seorang pelanggan ojek online, Enih Nurhaeni, mengaku nyaman dan aman dengan adanya sekat yang membatasi dirinya dengan pengemudi. Dengan sekat itu bisa mencegah kontak langsung sekaligus sebagai penghalang percikan air liur jika terjadi dialog.
“Kadang kita kan kalau di jalan juga ngobrol dengan driver (pengemudi), jadi sekat itu bisa mencegah terkena droplet (percikan air liur) karena tingginya di atas kepala. Ya kaya punggung kura-kura fungsinya, sebagai pelindung bagi kita konsumen dan ojol-nya,” terang Enih.
Lihat Juga :