Legenda Sumur Bandung dan Kisah None Belanda Temani Wisatawan

Senin, 12 Oktober 2020 - 05:00 WIB
Kejadiannya siang hari. Si ibu dari Bogor itu diantarkan oleh sosok satpam perempuan Belanda tersebut sampai ke depan sumur Bandung. Bahkan sampai ke dalam gedung.

"Penampakannya gadis Belanda. Si ibu diantar sama none Belanda itu sampai ke atas (dalam gedung). Sosok tersebut jalan seperti orang biasa berdua dengan si ibu. Setelah itu, si ibu bertanya ke satpam di sini. Kata dia tadi ada satpam perempuan, keturunan Belanda, geulis (cantik), menemaninya. Satpam yang ditanya menjawab, tidak ada satpam cewek di sini mah," kata Pian.

Pian mengungkapkan, pengunjung bukan hanya warga Kota Bandung dan sekitarnya, tetapi justru sebagian besar dari luar Kota Bandung. Sebagian besar dari Bogor, Garut, Indramayu, dan Cirebon.

Bahkan pernah ada pengunjung dari Bali sengaja datang untuk meminta air Sumur Bandung yang diyakini memiliki tuah. "Pernah datang orang dari Bali minta air Sumur Bandung. Katanya untuk keperluan ritual," ungkap Pian.

Pian mengatakan, manajemen Kantor UID PLN Jawa Barat membuka pintu bagi masyarakat yang ingin berkunjung ke Sumur Bandung.

"Sebelum ada COVID, kunjungan dibuka mulai pukul 08.00 pagi sampai 20.00 WIB. Sekarang, karena ada COVID hanya dari jam enam sore (18.00) sampai delapan malam (20.00 WIB). Sebelum pandemi, sering orang berkunjung ke sini (Sumur Bandung). Bahkan ada yang wiridan (doa bersama) di sana. Tak sedikit pula yang mengambil air dari sumur itu," tutur Pian.



Jadwal kunjung ke Sumur Bandung sebelum pandemi COVID-19. Foto/SINDOnews/Agus Warsudi

Para pengunjung yang hendak melihat Sumur Bandung atau mengambil airnya, tutur dia, tak dipungut biaya. Satpam hanya meminta pengunjung menitipkan identitas diri mereka, seperti kartu tanda penduduk (KTP) atau Surat Izin Mengemudi (SIM).

Karena legenda dan cerita-cerita mistis yang melingkarinya, Sumur Bandung pernah dijadikan lokasi uji nyali oleh sebuah acara di televisi. "Tapi dua kali jadi lokasi uji nyali tak muncul penampakan (makhluk astral)," kata Pian.

Pian pun mengaku selama 17 tahun bertugas menjaga kantor UID PLN Jawa Barat, dirinya tak pernah melihat atau bertemu dengan makhluk astral di lokasi Sumur Bandung. "Walaupun jaga malam, saya tidak pernah mengalami atau menemui hal-hal mistis atau gaib di sekitar sini," ujar Pian.

Tongkat Sang Bupati Bandung

Konon, pada 25 Mei 1811, Bupati Bandung Raden Adipati Wiranatakusumah II menancapkan tongkat di sebuah lahan kosong di tepi Sungai Cikapundung dan Postweg atau Jalan Pos kini Jalan Asia Afrika, yang masih ditumbuhi pepohonan lebat.

Kisah lain menyebutkan Bupati RA Wiranatakusumah II bukan menancapkan tongkat melainkan sebatang nyere (lidi). Tanah yang ditusuk lidi itu memencarkan air sehingga dibuatlah sumur dalam semalam.

Ketika itu, ibu kota Kabupaten Bandung baru pindah dari Krapyak kawasan Dayeuhkolot ke wilayah agak ke utara, saat ini lokasi Pendopo Wali Kota Bandung dan Alun Alun Bandung, Jalan Dalem Kaum.

Dari lubang bekas tongkat sang Bupati itu memancar air sangat jernih. Lalu, Bupati Bandung memerintahkan di titik dia menancapkan tongkat tersebut dibuatkan sumur. Akhirnya, sumur tersebut diberi nama Sumur Bandung. Situs Sumur Bandung ini menjadi bagian dari penanda lahirnya Kota Bandung.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!