Lampu Suar dan Jangkar Kapal, Jejak Dahsyatnya Letusan Krakatau di Bandar Lampung
Minggu, 20 September 2020 - 05:00 WIB
Seusai letusan dahsyat pada 1883, Gunung Krakatau terbelah menjadi dua. Dua bagian itu pun tumbuh menjadi gunung api. Orang-orangnya menyebutnya sebagai Gunung Anak Krakatau.
Dr Mirzam mengatakan, Gunung Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan dikarenakan posisinya yang terletak pada persilangan antara Pulau Jawa dan Sumatera. Ada aktivitas vulkanis yang tidak hanya berasal dari satu sumber, menyebabkan Gunung Anak Krakatau tumbuh signifikan dan arah letusannya pun cenderung menuju barat daya.
“Sejalan dengan arah sobekan Jawa-Sumatera, pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan jejak letusan ke arah barat daya,” ungkap Dosen Teknik Geologi ITB ini.
Volkanolog ITB Dr Eng Mirzam Abdurrachman ST MT. Foto/ITB.ac.id
Dr Mirzam menuturkan, sejauh ini tsunami pada 2018 akibat letusan Gunung Anak Krakatau diperkirakan dapat terjadi oleh empat mekanisme, yaitu letusan gunung api di bawah air (volcanogenic tsunami), longsoran (air masuk ke daratan), gunung api meletus membentuk kaldera (gunung api muncul di permukaan), dan aliran piroklastik (tsunami pada bagian depan gunung dengan kecepatan gelombang 150-250 km/jam).
Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau memiliki tinggi 338 meter di atas permukaan laut. Badan Geologi, Kementerian ESDM mendirikan dua pos pengamatan, yakni, Pos Pengamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung dan Pasauran, Merak, Provinsi Banten. Kedua pos itu digunakan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Letusan Gunung Anak Krakatau. Foto/Youtube/Mister Angka
Pada Desember 2018, sempat terjadi penurunan aktivitas di gunung api tersebut. Kemudian sejak Minggu 30 Desember 2018 hingga Kamis 3 Januari 2019, kembali mengalami peningkatan aktivitas terus menerus. Pada Kamis 3 Januari 2019, dari pagi sampai sore tadi, terjadi gempa akibat letusan Gunung Anak Krakatau.
Sedangkan semburan abu vulkanik yang mencapai tinggi 2.000 meter itu sebenarnya kolom asap. Tingginya bervariasi dari 200 meter sampai 2.000 meter.
Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kristianto mengatakan, mengemukakan, semburan kolom asap Gunung Anak Krakatau tidak berbahaya bagi warga sekitar. Karena itu, PVMBG merekomendasikan jarak aman 5 kilometer. Nelayan dilarang beraktivitas di dekat gunung api tersebut.
Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, Badan Geologi, Kemen ESDM Kristianto. Foto/Istimewa
Semburan kolom asap, tutur Kristianto, juga tidak membahayakan aktivitas penerbangan pesawat. Laporan perkembangan dan aktivitas gunung api sebagai bentuk kewaspadaan dan keselamatan penerbangan, Sub Bidang Gunung Api Wilayah Barat PVMBG selalu mengirim laporan ke Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), maskapai penerbangan, dan pengelola bandara.
"Kalau pelayaran, aman. Sebab pelayaran penyebarangan Merak-Bakauheni atau sebaliknya tidak melewati kawasan Gunung Anak Krakatu. Lintasan penyeberangan kapal jauh, berjarak 5 kilometer lebih dari gunung api ini," tutur Kristianto.
Sejarah Panjang Krakatau
Sementara itu, dalam laman geologi.esdm.go.ide, dijelaskan, dulunya, Gunung Krakatau memiliki tiga tubuh gunung, yakni Gunung Rakata, Danan, dan Perbuatan. Ketiga tubuh gunung ini saling bertumpuk.
Pada erupsi dahsyat pada 26 Agustus 1883, tubuh Gunung Danan dan Perbuatan, hancur dan hilang. Sedangkan tubuh Gunung Rakata, tersisa setengahnya. Setelah megaletusan itu, terbentuk kaldera di bawah permukaan laut dengan diameter sekitar 7 km. Muncul pula tiga gugusan pulau, yakni sisa Gunung Rakata, Pulau Sertung, dan Panjang.
Ketiga gugusan pulau ini membentuk segitiga. Pada 1927, peneliti gunung api asal Belanda menemukan di bekas tubuh Gunung Danan yang telah hilang dari permukaan, keluar erupsi dari dasar laut. Pada 29 Desember 1929, muncul kerucut di atas permukaan laut.
Ini menandai Gunung Anak Krakatau muncul ke permukaan. Jika dihitung dari 1927 sampai sekarang, sekitar 91 tahun, tinggi Gunung Anak Krakatau saat ini mencapai 300 meter. Artinya, gunung ini tumbuh, ketinggannya rata-rata bertambah tinggi tiga meter tiap tahun.
Karena tumbuh, Gunung Anak Krakatau ini sering meletus atau erupsi. Jadi sebetulnya, erupsi yang terjadi sejak Senin 18 Juni sampai Januari 2019 itu, sudah biasa dan sering terjadi, bukan peristiwa luar biasa.
Erupsi yang terjadi pada 2018 dan 2019, masih sama dengan tahun-tahun ke belakang. Jadi belum mengganggu pelayaran kapal penyeberangan dan penerbangan pesawat udara.
Gempa vulkanik yang terjadi pun sangat kecil sehingga tak dirasakan oleh warga. Sedangkan pulau terdekat adalah Pulau Panjang dan Sertung yang tak berpenghuni.
Sejak saat itu hingga saat ini Gunung Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi, membangun tubuhnya hingga besar, melalui perselingan fase-fase aktivitas tenang dan erupsi.
Dr Mirzam mengatakan, Gunung Anak Krakatau terus mengalami pertumbuhan dikarenakan posisinya yang terletak pada persilangan antara Pulau Jawa dan Sumatera. Ada aktivitas vulkanis yang tidak hanya berasal dari satu sumber, menyebabkan Gunung Anak Krakatau tumbuh signifikan dan arah letusannya pun cenderung menuju barat daya.
“Sejalan dengan arah sobekan Jawa-Sumatera, pulau-pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau juga menunjukkan jejak letusan ke arah barat daya,” ungkap Dosen Teknik Geologi ITB ini.
Volkanolog ITB Dr Eng Mirzam Abdurrachman ST MT. Foto/ITB.ac.id
Dr Mirzam menuturkan, sejauh ini tsunami pada 2018 akibat letusan Gunung Anak Krakatau diperkirakan dapat terjadi oleh empat mekanisme, yaitu letusan gunung api di bawah air (volcanogenic tsunami), longsoran (air masuk ke daratan), gunung api meletus membentuk kaldera (gunung api muncul di permukaan), dan aliran piroklastik (tsunami pada bagian depan gunung dengan kecepatan gelombang 150-250 km/jam).
Aktivitas Vulkanik Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau memiliki tinggi 338 meter di atas permukaan laut. Badan Geologi, Kementerian ESDM mendirikan dua pos pengamatan, yakni, Pos Pengamatan Kalianda, Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung dan Pasauran, Merak, Provinsi Banten. Kedua pos itu digunakan untuk memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Letusan Gunung Anak Krakatau. Foto/Youtube/Mister Angka
Pada Desember 2018, sempat terjadi penurunan aktivitas di gunung api tersebut. Kemudian sejak Minggu 30 Desember 2018 hingga Kamis 3 Januari 2019, kembali mengalami peningkatan aktivitas terus menerus. Pada Kamis 3 Januari 2019, dari pagi sampai sore tadi, terjadi gempa akibat letusan Gunung Anak Krakatau.
Sedangkan semburan abu vulkanik yang mencapai tinggi 2.000 meter itu sebenarnya kolom asap. Tingginya bervariasi dari 200 meter sampai 2.000 meter.
Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kristianto mengatakan, mengemukakan, semburan kolom asap Gunung Anak Krakatau tidak berbahaya bagi warga sekitar. Karena itu, PVMBG merekomendasikan jarak aman 5 kilometer. Nelayan dilarang beraktivitas di dekat gunung api tersebut.
Kepala Subbidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, Badan Geologi, Kemen ESDM Kristianto. Foto/Istimewa
Semburan kolom asap, tutur Kristianto, juga tidak membahayakan aktivitas penerbangan pesawat. Laporan perkembangan dan aktivitas gunung api sebagai bentuk kewaspadaan dan keselamatan penerbangan, Sub Bidang Gunung Api Wilayah Barat PVMBG selalu mengirim laporan ke Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Perhubungan (Kemenhub), maskapai penerbangan, dan pengelola bandara.
"Kalau pelayaran, aman. Sebab pelayaran penyebarangan Merak-Bakauheni atau sebaliknya tidak melewati kawasan Gunung Anak Krakatu. Lintasan penyeberangan kapal jauh, berjarak 5 kilometer lebih dari gunung api ini," tutur Kristianto.
Sejarah Panjang Krakatau
Sementara itu, dalam laman geologi.esdm.go.ide, dijelaskan, dulunya, Gunung Krakatau memiliki tiga tubuh gunung, yakni Gunung Rakata, Danan, dan Perbuatan. Ketiga tubuh gunung ini saling bertumpuk.
Pada erupsi dahsyat pada 26 Agustus 1883, tubuh Gunung Danan dan Perbuatan, hancur dan hilang. Sedangkan tubuh Gunung Rakata, tersisa setengahnya. Setelah megaletusan itu, terbentuk kaldera di bawah permukaan laut dengan diameter sekitar 7 km. Muncul pula tiga gugusan pulau, yakni sisa Gunung Rakata, Pulau Sertung, dan Panjang.
Ketiga gugusan pulau ini membentuk segitiga. Pada 1927, peneliti gunung api asal Belanda menemukan di bekas tubuh Gunung Danan yang telah hilang dari permukaan, keluar erupsi dari dasar laut. Pada 29 Desember 1929, muncul kerucut di atas permukaan laut.
Ini menandai Gunung Anak Krakatau muncul ke permukaan. Jika dihitung dari 1927 sampai sekarang, sekitar 91 tahun, tinggi Gunung Anak Krakatau saat ini mencapai 300 meter. Artinya, gunung ini tumbuh, ketinggannya rata-rata bertambah tinggi tiga meter tiap tahun.
Karena tumbuh, Gunung Anak Krakatau ini sering meletus atau erupsi. Jadi sebetulnya, erupsi yang terjadi sejak Senin 18 Juni sampai Januari 2019 itu, sudah biasa dan sering terjadi, bukan peristiwa luar biasa.
Erupsi yang terjadi pada 2018 dan 2019, masih sama dengan tahun-tahun ke belakang. Jadi belum mengganggu pelayaran kapal penyeberangan dan penerbangan pesawat udara.
Gempa vulkanik yang terjadi pun sangat kecil sehingga tak dirasakan oleh warga. Sedangkan pulau terdekat adalah Pulau Panjang dan Sertung yang tak berpenghuni.
Sejak saat itu hingga saat ini Gunung Anak Krakatau berada dalam fase konstruksi, membangun tubuhnya hingga besar, melalui perselingan fase-fase aktivitas tenang dan erupsi.
Lihat Juga :