Cuaca Indonesia Tahun 2026 Lebih Kering, Potensi Karhutla Tinggi
Jum'at, 06 Maret 2026 - 18:51 WIB
Kondisi netral tersebut mengindikasikan curah hujan yang cenderung lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan sedikit di bawah rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.
"Artinya, kita harus bersiap karena tantangan karhutla tahun ini akan lebih berat akibat kondisi yang lebih kering," ujar Faisal dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa wilayah ekuator seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat saat ini tengah mengalami fase “kemarau kecil”, di mana masih terdapat peluang hujan sebelum memasuki puncak musim kemarau pada Juni hingga Agustus.
Momentum ini dimanfaatkan untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna menurunkan hujan dan membasahi lahan gambut agar lebih jenuh air sebelum periode kering mencapai puncaknya.
BMKG juga terus memantau potensi siklus El Nino empat tahunan yang diperkirakan dapat terjadi pada 2027. Jika fenomena tersebut muncul bersamaan dengan penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara kering, maka Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang. "Karena itu, langkah-langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak sekarang."
Sementara itu, wilayah selatan Indonesia seperti Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara masih mengalami curah hujan relatif tinggi hingga awal Maret dan diperkirakan mulai menurun secara bertahap menuju musim kemarau pada pertengahan bulan.
"Artinya, kita harus bersiap karena tantangan karhutla tahun ini akan lebih berat akibat kondisi yang lebih kering," ujar Faisal dalam keterangannya, Jumat (6/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa wilayah ekuator seperti Riau, Jambi, dan Kalimantan Barat saat ini tengah mengalami fase “kemarau kecil”, di mana masih terdapat peluang hujan sebelum memasuki puncak musim kemarau pada Juni hingga Agustus.
Momentum ini dimanfaatkan untuk melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna menurunkan hujan dan membasahi lahan gambut agar lebih jenuh air sebelum periode kering mencapai puncaknya.
BMKG juga terus memantau potensi siklus El Nino empat tahunan yang diperkirakan dapat terjadi pada 2027. Jika fenomena tersebut muncul bersamaan dengan penguatan Monsun Australia yang membawa massa udara kering, maka Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang. "Karena itu, langkah-langkah mitigasi perlu dipersiapkan sejak sekarang."
Sementara itu, wilayah selatan Indonesia seperti Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara masih mengalami curah hujan relatif tinggi hingga awal Maret dan diperkirakan mulai menurun secara bertahap menuju musim kemarau pada pertengahan bulan.
Lihat Juga :