Menggugah Nurani, Pilot Perempuan Asal Aceh Turun Langsung Bantu Korban Bencana Banjir dan Longsor
Senin, 22 Desember 2025 - 17:49 WIB
Sebagai putri asli Aceh, Putroe merasa memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bantuan dari rekan-rekan sesama pilot benar-benar dirasakan oleh warga terdampak. Dari hasil pemantauan di lapangan, ia melihat kebutuhan paling mendesak adalah layanan kesehatan.
“Saya hanya ingin membantu sebisanya karena saya berasal dari sini, dari Aceh. Setelah melihat langsung kondisinya, ternyata bantuan medis sangat minim. Dari situlah kami memutuskan membangun posko kesehatan dengan obat-obatan hasil sumbangan anggota APIC,” ujar Putroe dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah kondisi serba terbatas, posko medis darurat yang didirikan Putroe dan tim APIC menjadi harapan baru bagi warga. Momen paling menggetarkan hati terjadi di wilayah Sawang, ketika listrik padam dan malam diselimuti kegelapan.
“Ada seorang nenek yang sudah sangat tua, berjalan sendirian dalam gelap demi bisa berobat ke posko kami. Melihat itu, rasanya sedih sekali,” kenang Putroe.
Tak hanya itu, ketulusan warga Aceh juga membekas kuat di hati para relawan. Saat tim APIC harus bekerja hingga larut malam karena membludaknya pasien, para pengungsi justru menawarkan tikar alas tidur mereka.
“Saya hanya ingin membantu sebisanya karena saya berasal dari sini, dari Aceh. Setelah melihat langsung kondisinya, ternyata bantuan medis sangat minim. Dari situlah kami memutuskan membangun posko kesehatan dengan obat-obatan hasil sumbangan anggota APIC,” ujar Putroe dengan mata berkaca-kaca.
Di tengah kondisi serba terbatas, posko medis darurat yang didirikan Putroe dan tim APIC menjadi harapan baru bagi warga. Momen paling menggetarkan hati terjadi di wilayah Sawang, ketika listrik padam dan malam diselimuti kegelapan.
“Ada seorang nenek yang sudah sangat tua, berjalan sendirian dalam gelap demi bisa berobat ke posko kami. Melihat itu, rasanya sedih sekali,” kenang Putroe.
Tak hanya itu, ketulusan warga Aceh juga membekas kuat di hati para relawan. Saat tim APIC harus bekerja hingga larut malam karena membludaknya pasien, para pengungsi justru menawarkan tikar alas tidur mereka.
Lihat Juga :