Kisah Karomah Syaikhona Muhammad Kholil, Ulama Kharismatik asal Madura yang Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional
Jum'at, 14 November 2025 - 12:53 WIB
Sewaktu berada di Mekkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Mbah Kholil bekerja mengambil upah sebagai penyalin kitab-kitab yang diperlukan oleh para pelajar. Sepulangnya dari Mekkah, Mbah Kholil dikenal sebagai seorang ahli Fiqh dan Tarekat.
Bahkan beliau dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-Hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Sepulang dari Mekkah, Mbah Kholil mendirikan pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan.
Tak butuh waktu lama, banyak santri berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha, pesantren di Cengkebuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya.
Mbah Kholil kemudian mendirikan pesantren lagi di daerah Demangan, 1 km dari pesantren lama. Di pesantren baru ini, Mbah Kholil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Pulau Jawa.
Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy'ari, dari Jombang. Kemudian banyak santri-santri lain yang menimba ilmu agama dari Mbah Kholil.
Selain KH. Hasyim Asy'ari, pendiri NU dan pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang ada juga KHR. As'ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
KH. Bisri Syansuri, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.KH. Maksum, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah. KH. Bisri Mustofa, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang. KH. Muhammad Siddiq, Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
KH. Muhammad Hasan Genggong, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. KH. Zaini Mun'im, Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo dan puluhan kiai besar lainnya.
Suatu ketika di Bangkalan, Syaikhona Kholil (Syeh Kholil) ditemani Kiai Syamsul Arifin ayahanda Kiai As’ad Situbondo. Bersama sahabatnya itu, mereka berbincang-bincang tentang pengembangan pesantren dan persoalan umat Islam di daerah Pulau Jawa dan Madura. Persoalan demi persoalan dibicarakan, tak terasa saking asyik berdiskusi matahari hampir terbenam. Padahal mereka belum melaksanakan shalat Ashar, sementara waktunya hampir habis sehingga tidak mungkin melaksanakan shalat asar dengan sempurna dan khusyuk.
Akhirnya Syaikhona Kholil memerintah Kiai Syamsul Arifin untuk mengambil kerocok (sejenis daun aren yang dapat mengapung di atas air) untuk dipakai perjalanan menuju Makkah. Setelah mendapatkan kerocok, lantas Syekh Kholil menatap ke arah Makkah, tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya berjalan dengan cepat menuju Makkah. Sesampainya di Makkah, adzan Ashar baru saja dikumandangkan. Setelah mengambil wudlu, Syekh Kholil dan Kiai Syamsul Arifin segera menuju shaf pertama untuk melaksanakan shalat asar berjamaah di Masjidil Haram.
Dikisahkan oleh K.H. Abdullah Syamsul Arifin, ketua PCNU Jember, terdapat seorang warga yang mempunyai anak dengan kelainan hobi mengonsumsi gula berlebih, bahkan setiap hari anak tersebut bisa menghabiskan sekian kilo gula pasir. Akhirnya ayah anak itu nyabis (sowan) ke Syekh Kholil Bangkalan. Di hadapan Syekh Kholil ia mengeluh soal kebiasaan anaknya menyantap gula.
Bahkan beliau dikenal sebagai salah seorang Kiai yang dapat memadukan kedua hal itu dengan serasi. Dia juga dikenal sebagai al-Hafidz (hafal Al-Qur’an 30 Juz). Sepulang dari Mekkah, Mbah Kholil mendirikan pesantren di daerah Cengkubuan, Bangkalan.
Tak butuh waktu lama, banyak santri berdatangan dari desa-desa sekitarnya. Namun, setelah putrinya, Siti Khatimah dinikahkan dengan keponakannya sendiri, yaitu Kiai Muntaha, pesantren di Cengkebuan itu kemudian diserahkan kepada menantunya.
Mbah Kholil kemudian mendirikan pesantren lagi di daerah Demangan, 1 km dari pesantren lama. Di pesantren baru ini, Mbah Kholil juga cepat memperoleh santri lagi, bukan saja dari daerah sekitar, tetapi juga dari Pulau Jawa.
Santri pertama yang datang dari Jawa tercatat bernama Hasyim Asy'ari, dari Jombang. Kemudian banyak santri-santri lain yang menimba ilmu agama dari Mbah Kholil.
Selain KH. Hasyim Asy'ari, pendiri NU dan pendiri, pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang ada juga KHR. As'ad Syamsul Arifin, Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah, Sukorejo Asembagus, Situbondo. KH. Wahab Hasbullah: Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Tambak Beras Jombang. Pernah menjabat sebagai Rais Aam NU (1947 – 1971).
KH. Bisri Syansuri, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Denanyar, Jombang.KH. Maksum, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang, Jawa Tengah. KH. Bisri Mustofa, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Rembang. KH. Muhammad Siddiq, Pendiri, Pengasuh Pesantren Siddiqiyah, Jember.
KH. Muhammad Hasan Genggong, Pendiri, Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. KH. Zaini Mun'im, Pendiri, Pengasuh Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo dan puluhan kiai besar lainnya.
Beberapa Karomah Syeh Kholil:
- Ke Mekkah Naik Kerocok
Suatu ketika di Bangkalan, Syaikhona Kholil (Syeh Kholil) ditemani Kiai Syamsul Arifin ayahanda Kiai As’ad Situbondo. Bersama sahabatnya itu, mereka berbincang-bincang tentang pengembangan pesantren dan persoalan umat Islam di daerah Pulau Jawa dan Madura. Persoalan demi persoalan dibicarakan, tak terasa saking asyik berdiskusi matahari hampir terbenam. Padahal mereka belum melaksanakan shalat Ashar, sementara waktunya hampir habis sehingga tidak mungkin melaksanakan shalat asar dengan sempurna dan khusyuk.
Akhirnya Syaikhona Kholil memerintah Kiai Syamsul Arifin untuk mengambil kerocok (sejenis daun aren yang dapat mengapung di atas air) untuk dipakai perjalanan menuju Makkah. Setelah mendapatkan kerocok, lantas Syekh Kholil menatap ke arah Makkah, tiba-tiba kerocok yang ditumpanginya berjalan dengan cepat menuju Makkah. Sesampainya di Makkah, adzan Ashar baru saja dikumandangkan. Setelah mengambil wudlu, Syekh Kholil dan Kiai Syamsul Arifin segera menuju shaf pertama untuk melaksanakan shalat asar berjamaah di Masjidil Haram.
- Mengobati Anak Pecandu Gula
Dikisahkan oleh K.H. Abdullah Syamsul Arifin, ketua PCNU Jember, terdapat seorang warga yang mempunyai anak dengan kelainan hobi mengonsumsi gula berlebih, bahkan setiap hari anak tersebut bisa menghabiskan sekian kilo gula pasir. Akhirnya ayah anak itu nyabis (sowan) ke Syekh Kholil Bangkalan. Di hadapan Syekh Kholil ia mengeluh soal kebiasaan anaknya menyantap gula.
Lihat Juga :