Kisah Jenderal Kopassus Moeng Parhadimulyo, Spartan Perintis Seragam Loreng Darah Mengalir Khas Baret Merah
Jum'at, 07 November 2025 - 07:32 WIB
Komandan RPKAD (saat ini disebut Kopassus) periode 1958-1964 Kolonel Inf Moeng Parhadimulyo menyetujui penggunaan seragam dengan motif loreng darah mengalir. Foto/Dok.Kopassus
KOMANDO Pasukan Khusus (Kopassus) memiliki ciri khas memakai Baret Merah dan pakaian dinas lapangan (PDL) motif loreng darah mengalir. Seragam itu mencerminkan keberanian dan juga identitas pasukan elite TNI yang menggetarkan dunia.
Sosok yang berjasa besar memunculkan seragam kebanggaan tersebut tak lain adalah Mayjen TNI (Purn) Moeng Parhadimulyo. Seragam baru Kopassus dengan corak darah mengalir diperkenalkan secara resmi pada Hari ABRI (kini TNI) 5 Oktober 1964.
Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Sutiyoso Lolos dari Kepungan 120 Pasukan Din Minimi di Aceh
Awalnya, Kopassus cikal bakalnya dimulai pada 16 April 1952 saat Kolonel AE Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando Tentara Territorium (Kesko TT) III/Siliwangi. Kesatuan ini lahir di zaman yang masih serba susah.
Meski disiapkan sebagai kesatuan elite, namun faktanya mereka hanya menempati kantor di salah satu bagian markas depot batalyon.
Prajurit yang tergabung dalam Kesko TT-III/Siliwangi menempuh pendidikan untuk mendapatkan badge tanda lulus pendidikan komando. Selanjutnya diberikanlah seragam loreng dengan corak khusus yang kemudian dikenal dengan sebutan 'loreng macan tutul'.
"Aslinya pakaiaan loreng itu buatan Amerika yang diproduksi pada masa Perang Dunia I dalam jumlah besar untuk US Marines," tulis buku 'Kopassus untuk Indonesia: Profesionalisme Prajurit Kopassus' karya Iwan Santosa dan EA Natanegara dikutip Jumat (7/11/2025).
Baca juga: Kisah Mualaf Jenderal Kopassus Lodewijk Freidrich Paulus, Sempat Ditentang Keluarga dan Disebut Bakal Masuk Neraka
Selanjutnua ketika berakhirnya perang dunia II, pakaian seragam itu diberikan sebagai bantuan kepada tentara Kerajaan Belanda, yang akhirnya diserahkan juga kepada angkatan perang Indonesia sesuai perjanjian Konferensi Meja Bundar. Pakaian inilah yang lantas digunakan sebagai seragam khusus prajurit satuan komando (Kopassus).
Sosok yang berjasa besar memunculkan seragam kebanggaan tersebut tak lain adalah Mayjen TNI (Purn) Moeng Parhadimulyo. Seragam baru Kopassus dengan corak darah mengalir diperkenalkan secara resmi pada Hari ABRI (kini TNI) 5 Oktober 1964.
Baca juga: Kisah Jenderal Kopassus Sutiyoso Lolos dari Kepungan 120 Pasukan Din Minimi di Aceh
Awalnya, Kopassus cikal bakalnya dimulai pada 16 April 1952 saat Kolonel AE Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando Tentara Territorium (Kesko TT) III/Siliwangi. Kesatuan ini lahir di zaman yang masih serba susah.
Meski disiapkan sebagai kesatuan elite, namun faktanya mereka hanya menempati kantor di salah satu bagian markas depot batalyon.
Prajurit yang tergabung dalam Kesko TT-III/Siliwangi menempuh pendidikan untuk mendapatkan badge tanda lulus pendidikan komando. Selanjutnya diberikanlah seragam loreng dengan corak khusus yang kemudian dikenal dengan sebutan 'loreng macan tutul'.
"Aslinya pakaiaan loreng itu buatan Amerika yang diproduksi pada masa Perang Dunia I dalam jumlah besar untuk US Marines," tulis buku 'Kopassus untuk Indonesia: Profesionalisme Prajurit Kopassus' karya Iwan Santosa dan EA Natanegara dikutip Jumat (7/11/2025).
Baca juga: Kisah Mualaf Jenderal Kopassus Lodewijk Freidrich Paulus, Sempat Ditentang Keluarga dan Disebut Bakal Masuk Neraka
Selanjutnua ketika berakhirnya perang dunia II, pakaian seragam itu diberikan sebagai bantuan kepada tentara Kerajaan Belanda, yang akhirnya diserahkan juga kepada angkatan perang Indonesia sesuai perjanjian Konferensi Meja Bundar. Pakaian inilah yang lantas digunakan sebagai seragam khusus prajurit satuan komando (Kopassus).
Lihat Juga :