Kisah Jenderal TNI George Toisutta, Mantan KSAD yang Rutin Dengarkan Lantunan Surat Yasin
Minggu, 19 Oktober 2025 - 08:29 WIB
Di Malang, George tinggal di orangtua angkat ayahnya. Di kota itu pula dia memutuskan untuk ikut seleksi masuk Akabri. Berbagai tes dilaluinya dengan lancar. Putra kedua dari pasangan Cristian H Toisutta-Siti Hasanah binti Komaruddin ini pun dinyatakan lulus seleksi.
Sejak itu, tepatnya pada 29 Januari 1973, dia resmi menjadi siswa Taruna dan menjalani pahit manis pendidikan di Lembah Tidar, Magelang. Perawakannya yang tinggi tegap menjadikan George terpilih sebagai pemegang stickmaster drumband Taruna Akabri.
“Ketika Jenderal George Toisutta masih menjadi taruna, beliau sangat menguasai musik, bahkan bila ada anggotanya yang salah siap-siap menerima bendol stickmater beliau,” kata Mayjen TNI Albiker Hutabarat, adik asuh George di Taruna, dalam wawancara dengan tim Disjarahad.
George lulus Akabri pada 1976. Setelah mengikuti pendidikan infanteri Sussarcab pada 1977 berbagai penugasan melekat pada pundaknya. Prajurit kelahiran 1 Juni 1953 ini mula-mula ditunjuk sebagai komandan peleton 1 Kompi Senapan-C Batalyon 741/BS Udayana di Singaraja, Bali.
Selanjutnya kariernya meningkat jadi kepala seksi operasi Yonif 741/BS. Perjalanan waktu melesatkan karier tentara alumnus Seskoad 1992 tersebut. Perwira yang pantang merokok ini dipercaya menjadi Danrindam II/Sriwijaya kala berpangkat kolonel.
Kala itu yang melantiknya yakni Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di masa-masa bertugas di Rindam Sriwijaya inilah banyak cerita menarik. George termasuk sosok yang dekat dengan staf termasuk ajudan maupun pengemudi kendaraan dinas. Dalam perjalanan dinas, dia kerap mengobrol dengan ajudan maupun sopir.
Saat itu, Kolonel Inf George ternyata memiliki kegemaran mendengarkan lantunan Alquran. “Terdapat satu kebiasaan khusus dari perwira kelahiran Makassar tersebut, ia hobi dengan kaset Yassin (Yasin). Bahkan bila ajudannya bisa mengaji, ajudan lah yang biasanya membaca Yassin,” tulis buku biografi George (hal 45).
Sebenarnya tak mengherankan soal kebiasaan itu. Kakenya berasal dari Desa Siri Sori Islam, Saparua. Ia seorang imam masjid di Ambon. Inilah yang mengilhami George untuk memelajari dan memperdalam Islam. Sang kakek itu yang dulu berharap George kelak jadi guru ngaji. Karier lulusan kursus dasar Para pada 1977 tersebut kian mencorong.
Sejak itu, tepatnya pada 29 Januari 1973, dia resmi menjadi siswa Taruna dan menjalani pahit manis pendidikan di Lembah Tidar, Magelang. Perawakannya yang tinggi tegap menjadikan George terpilih sebagai pemegang stickmaster drumband Taruna Akabri.
“Ketika Jenderal George Toisutta masih menjadi taruna, beliau sangat menguasai musik, bahkan bila ada anggotanya yang salah siap-siap menerima bendol stickmater beliau,” kata Mayjen TNI Albiker Hutabarat, adik asuh George di Taruna, dalam wawancara dengan tim Disjarahad.
George lulus Akabri pada 1976. Setelah mengikuti pendidikan infanteri Sussarcab pada 1977 berbagai penugasan melekat pada pundaknya. Prajurit kelahiran 1 Juni 1953 ini mula-mula ditunjuk sebagai komandan peleton 1 Kompi Senapan-C Batalyon 741/BS Udayana di Singaraja, Bali.
Selanjutnya kariernya meningkat jadi kepala seksi operasi Yonif 741/BS. Perjalanan waktu melesatkan karier tentara alumnus Seskoad 1992 tersebut. Perwira yang pantang merokok ini dipercaya menjadi Danrindam II/Sriwijaya kala berpangkat kolonel.
Kala itu yang melantiknya yakni Pangdam II Sriwijaya Mayjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Di masa-masa bertugas di Rindam Sriwijaya inilah banyak cerita menarik. George termasuk sosok yang dekat dengan staf termasuk ajudan maupun pengemudi kendaraan dinas. Dalam perjalanan dinas, dia kerap mengobrol dengan ajudan maupun sopir.
Saat itu, Kolonel Inf George ternyata memiliki kegemaran mendengarkan lantunan Alquran. “Terdapat satu kebiasaan khusus dari perwira kelahiran Makassar tersebut, ia hobi dengan kaset Yassin (Yasin). Bahkan bila ajudannya bisa mengaji, ajudan lah yang biasanya membaca Yassin,” tulis buku biografi George (hal 45).
Sebenarnya tak mengherankan soal kebiasaan itu. Kakenya berasal dari Desa Siri Sori Islam, Saparua. Ia seorang imam masjid di Ambon. Inilah yang mengilhami George untuk memelajari dan memperdalam Islam. Sang kakek itu yang dulu berharap George kelak jadi guru ngaji. Karier lulusan kursus dasar Para pada 1977 tersebut kian mencorong.
Lihat Juga :