Transformasi Megamendung Puncak, dari Konflik Tanah ke Wisata Ramah Lingkungan

Kamis, 09 Oktober 2025 - 06:17 WIB
Menurut Ridwan, yang paling penting, mereka peduli terhadap lingkungan. Contohnya, Sungai Cisuka di wilayah ini tidak pernah banjir meski ada pembangunan.

Ridwan menilai pola investasi semacam ini sejalan dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan hilirisasi dan penyerapan tenaga kerja. “Hilirisasi investasi di sini salah satunya melalui sektor ketenagakerjaan. Itu membantu mengurangi pengangguran,” tambahnya.

pakar Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Pakuan (Unpak) M Yogie Syahbandar menilai Kabupaten Bogor memiliki potensi besar dalam mengembangkan ekowisata berbasis masyarakat. Wilayah ini memiliki potensi wisata alam yang sangat beragam. Mulai dari pegunungan, pertanian, gua, hingga hutan. Karakteristik perdesaannya yang kuat menjadikannya ideal untuk wisata berbasis pemberdayaan masyarakat lokal.

Namun pengembangan ekowisata tidak bisa dilakukan secara serampangan. Harus diperhatikan aspek sosial, ekonomi, budaya, lingkungan, serta tata kelola kelembagaan dan infrastruktur. Termasuk promosi dan pembentukan kelompok ekowisata sebagai penggerak lokal.

Menurutnya, keterlibatan korporasi seperti Eiger justru bisa mempercepat proses pengembangan ekowisata. Dalam konsep triple helix, harus ada sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan pengusaha. Korporasi bisa berperan dalam inkubasi, percepatan, maupun pelaksanaan program ekowisata. ”Yang penting, koridor sosial, ekonomi, dan lingkungan tetap dijaga,” ujar Ketua Korwil ASPI Jabodetabek ini.

Ia menambahkan, brand besar yang memiliki kepedulian terhadap alam bisa menjadi pengungkit pembangunan berkelanjutan. Mereka biasanya peduli terhadap lingkungan akan menjalankan usaha yang sejalan dengan prinsip konservasi. ”Namun tetap harus diawasi agar tidak menyalahi tujuan pelestarian,” tandasnya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!