Satu Kuas, Satu Cerita: Lukisan Wajah dari Pinggir Jalan Kota Tua
Sabtu, 19 Juli 2025 - 18:37 WIB
Komunitas pelukis jalanan Kota Tua, mulai dari pelukis senior macam Tendy, kelompok muda seperti “Perupa Kota Tua” hingga “Komunitas Kreatif Kota Tua”, terus tumbuh dalam semangat saling mendukung. Mereka terlibat aktif dalam berbagai pameran, baik secara langsung di lapangan maupun online, serta kerap berbagi ilmu teknik dan pengalaman. “Kami saling mendukung, berbagi teknik dan pengalaman. Seperti keluarga yang membantu satu sama lain,” kata Eel.
Selain itu, mereka memanfaatkan media sosial untuk memamerkan karya dan memperluas jejaring, sehingga bisa tetap eksis di tengah tantangan ekonomi dan perubahan zaman. Tak sekadar simfoni warna di atas kanvas, lukisan wajah Kota Tua kerap menjadi titik temu banyak pihak—warga lokal, pelancong, hingga kolektor seni.
Melalui karya mereka, pelukis seperti Eel dan Tendy membantu memperlihatkan identitas serta kisah manusia di balik aktivitas sehari-hari. Setiap goresan kuas mampu menjembatani kesenjangan sosial dan menghadirkan pemahaman baru akan ragam karakter di Kota Tua.
Meski telah berkembang, seni jalanan di Kota Tua menghadapi sejumlah kendala, mulai dari regulasi yang belum jelas, persaingan dengan hiburan komersial, hingga fluktuasi minat pengunjung. Cuaca dan ketidakpastian penghasilan juga menjadi tantangan harian bagi para pelukis. Untuk tetap bertahan, mereka kian aktif menampilkan karya secara daring dan rutin berkolaborasi dalam beragam pameran. Baca juga: Menelusuri 1.460 Relief Borobudur Lewat Goresan Lukisan Sohieb Toyaroja
Eel menaruh harapan pada dukungan pemerintah dan masyarakat agar seni jalanan dapat semakin terorganisir serta berkembang. “Kalau ada dukungan yang lebih baik dari pemerintah, kami bisa lebih maksimal menyebarkan pesan budaya. Seni jalanan bukan hanya untuk hari ini, tapi investasi bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Dengan semangat yang tinggi, Eel, Tendy, dan komunitas pelukis Kota Tua terus mengisi ruang kota dengan warna dan kisah manusia. Di setiap garis dan warna, tersimpan cerita-cerita yang memperkaya narasi urban Jakarta. Dukungan berbagai pihak akan membuat Kota Tua tetap menjadi ruang kreatif yang hidup dan memberi makna, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan.
*Tulisan ini kiriman dari Fidelya Hannan Sava
Selain itu, mereka memanfaatkan media sosial untuk memamerkan karya dan memperluas jejaring, sehingga bisa tetap eksis di tengah tantangan ekonomi dan perubahan zaman. Tak sekadar simfoni warna di atas kanvas, lukisan wajah Kota Tua kerap menjadi titik temu banyak pihak—warga lokal, pelancong, hingga kolektor seni.
Melalui karya mereka, pelukis seperti Eel dan Tendy membantu memperlihatkan identitas serta kisah manusia di balik aktivitas sehari-hari. Setiap goresan kuas mampu menjembatani kesenjangan sosial dan menghadirkan pemahaman baru akan ragam karakter di Kota Tua.
Meski telah berkembang, seni jalanan di Kota Tua menghadapi sejumlah kendala, mulai dari regulasi yang belum jelas, persaingan dengan hiburan komersial, hingga fluktuasi minat pengunjung. Cuaca dan ketidakpastian penghasilan juga menjadi tantangan harian bagi para pelukis. Untuk tetap bertahan, mereka kian aktif menampilkan karya secara daring dan rutin berkolaborasi dalam beragam pameran. Baca juga: Menelusuri 1.460 Relief Borobudur Lewat Goresan Lukisan Sohieb Toyaroja
Eel menaruh harapan pada dukungan pemerintah dan masyarakat agar seni jalanan dapat semakin terorganisir serta berkembang. “Kalau ada dukungan yang lebih baik dari pemerintah, kami bisa lebih maksimal menyebarkan pesan budaya. Seni jalanan bukan hanya untuk hari ini, tapi investasi bagi generasi mendatang,” tegasnya.
Dengan semangat yang tinggi, Eel, Tendy, dan komunitas pelukis Kota Tua terus mengisi ruang kota dengan warna dan kisah manusia. Di setiap garis dan warna, tersimpan cerita-cerita yang memperkaya narasi urban Jakarta. Dukungan berbagai pihak akan membuat Kota Tua tetap menjadi ruang kreatif yang hidup dan memberi makna, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan.
*Tulisan ini kiriman dari Fidelya Hannan Sava
(poe)
Lihat Juga :