Satu Kuas, Satu Cerita: Lukisan Wajah dari Pinggir Jalan Kota Tua

Sabtu, 19 Juli 2025 - 18:37 WIB
loading...
Satu Kuas, Satu Cerita:...
Sejumlah lukisan karya Eel, seorang pelukis di Kota Tua, Jakarta. (Foto/Dokumen Pribadi)
A A A
JAKARTA - Di sepanjang jalan Kota Tua Jakarta , mata pengunjung akan mudah menemukan pelukis jalanan. Salah satunya adalah Eel, seniman yang sejak 2011 rutin melukis wajah di atas kanvas kecil. Eel tak hanya menghasilkan rupa, namun juga berupaya menangkap kisah di balik setiap wajah yang ia lukis. Baginya, melukis di Kota Tua bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga panggilan hati untuk menghadirkan cerita-cerita manusia.

Eel memulai proses belajarnya di awal 2000-an di Bali. Kemudian mengasah kemampuan di Yogyakarta sebelum akhirnya memilih Kota Tua sebagai tempat berkreasi. “Melukis di sini bukan hanya soal mencari penghasilan. Setiap wajah itu punya cerita. Saya berusaha mengabadikannya lewat lukisan,” ujarnya usai menyelesaikan sebuah potret. Baca juga: Sejarah dan Keberlanjutan Kota Tua Jakarta sebagai Warisan Bersejarah

Suasana Kota Tua yang unik serta ragam manusia yang melintas di sana menjadi sumber inspirasi tak pernah habis bagi pria ini. Eel menekankan, melukis wajah adalah proses yang lebih dari sekadar menggambar.

Ia kerap mengobrol dengan orang yang akan dilukisnya agar dapat menangkap kepribadian dan cerita mereka. “Saya ingin orang yang melihat lukisan tidak hanya melihat wajah, tapi juga merasakan cerita di baliknya,” tambahnya.

Selain Eel, Kota Tua juga menjadi rumah bagi sosok pelukis senior, Tendy, yang telah melukis di kawasan ini sejak 1990-an. Di mata komunitas seniman jalanan, Tendy dikenal sebagai penjaga semangat dan tradisi. Ia kerap menjadi rujukan bagi pelukis-pelukis muda berkat pengalaman panjangnya.

Lukisan-lukisan Tendy didominasi potret kehidupan jalanan dan orang-orang Kota Tua. “Kadang penghasilan tidak menentu, tapi seni itu nafas kami. Kota Tua sudah seperti rumah kedua,” jelasnya, menegaskan semangat kebersamaan di tengah tantangan.

Kehadiran pelukis-pelukis jalanan seperti Eel dan Tendy di Kota Tua Jakarta tidak hanya menghadirkan karya seni yang menarik, tetapi juga menciptakan pengalaman yang unik dan berkesan bagi para pengunjung. Setiap proses melukis yang berlangsung secara langsung di tengah keramaian menjadi momen yang tak terlupakan bagi banyak orang. Mereka bukan hanya menyaksikan sebuah lukisan lahir, tetapi juga merasakan kehangatan interaksi saat pelukis mengobrol dengan subjeknya.

Rani, salah seorang pengunjung, mengungkapkan bahwa hasil lukisan yang diterimanya sangat berbeda dari sekadar foto biasa. “Hasil lukisan saya sangat berbeda dari sekadar foto. Ada nuansa cerita dan kehangatan di sana, apalagi selama proses melukis saya sempat berbincang dengan pelukisnya,” ujarnya.

Kesempatan untuk berbincang dan mengenal sosok di balik karya menjadikan pengalaman tersebut jauh lebih personal dan bermakna. Selain pengunjung lokal, wisatawan asing juga menunjukkan antusiasme yang tinggi.

Jean, seorang wisatawan dari Kanada, bahkan merasa terpukau dengan proses melukis secara langsung yang ia saksikan di Kota Tua. “Di sini saya merasa benar-benar diterima. Lukisan ini akan saya bawa pulang sebagai kenangan manis dari Jakarta,” kata Jean.

Bagi para wisatawan, lukisan wajah yang dibuat para pelukis bukan sekadar benda seni, melainkan souvenir istimewa yang mengabadikan momen dan cerita perjalanan mereka di ibu kota. Banyak pengunjung menganggap interaksi langsung dengan para pelukis memberikan dimensi baru pada seni jalanan.

Mereka bisa melihat bagaimana ekspresi dan cerita seseorang tertangkap dalam sapuan kuas, sehingga tak jarang lukisan tersebut menjadi kenangan yang benar-benar membekas di hati. Pengalaman ini pun menambah daya tarik Kota Tua bukan hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai ruang seni yang hidup dan mengundang partisipasi masyarakat serta pengunjung dari berbagai latar belakang.

Komunitas Pelukis: Ruang Bertumbuh Bersama
Komunitas pelukis jalanan Kota Tua, mulai dari pelukis senior macam Tendy, kelompok muda seperti “Perupa Kota Tua” hingga “Komunitas Kreatif Kota Tua”, terus tumbuh dalam semangat saling mendukung. Mereka terlibat aktif dalam berbagai pameran, baik secara langsung di lapangan maupun online, serta kerap berbagi ilmu teknik dan pengalaman. “Kami saling mendukung, berbagi teknik dan pengalaman. Seperti keluarga yang membantu satu sama lain,” kata Eel.

Selain itu, mereka memanfaatkan media sosial untuk memamerkan karya dan memperluas jejaring, sehingga bisa tetap eksis di tengah tantangan ekonomi dan perubahan zaman. Tak sekadar simfoni warna di atas kanvas, lukisan wajah Kota Tua kerap menjadi titik temu banyak pihak—warga lokal, pelancong, hingga kolektor seni.

Melalui karya mereka, pelukis seperti Eel dan Tendy membantu memperlihatkan identitas serta kisah manusia di balik aktivitas sehari-hari. Setiap goresan kuas mampu menjembatani kesenjangan sosial dan menghadirkan pemahaman baru akan ragam karakter di Kota Tua.

Meski telah berkembang, seni jalanan di Kota Tua menghadapi sejumlah kendala, mulai dari regulasi yang belum jelas, persaingan dengan hiburan komersial, hingga fluktuasi minat pengunjung. Cuaca dan ketidakpastian penghasilan juga menjadi tantangan harian bagi para pelukis. Untuk tetap bertahan, mereka kian aktif menampilkan karya secara daring dan rutin berkolaborasi dalam beragam pameran. Baca juga: Menelusuri 1.460 Relief Borobudur Lewat Goresan Lukisan Sohieb Toyaroja

Eel menaruh harapan pada dukungan pemerintah dan masyarakat agar seni jalanan dapat semakin terorganisir serta berkembang. “Kalau ada dukungan yang lebih baik dari pemerintah, kami bisa lebih maksimal menyebarkan pesan budaya. Seni jalanan bukan hanya untuk hari ini, tapi investasi bagi generasi mendatang,” tegasnya.

Dengan semangat yang tinggi, Eel, Tendy, dan komunitas pelukis Kota Tua terus mengisi ruang kota dengan warna dan kisah manusia. Di setiap garis dan warna, tersimpan cerita-cerita yang memperkaya narasi urban Jakarta. Dukungan berbagai pihak akan membuat Kota Tua tetap menjadi ruang kreatif yang hidup dan memberi makna, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk masa depan.

*Tulisan ini kiriman dari Fidelya Hannan Sava
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jadi Ruang Kolaborasi...
Jadi Ruang Kolaborasi Seniman, Menekraf Apresiasi ArtMoments Jakarta 2026
Pramono Sebut Wacana...
Pramono Sebut Wacana Trem di Kota Tua Perlu Kajian Mendalam
Halalbihalal Jakarta...
Halalbihalal Jakarta Digelar di Kota Tua, Wagub DKI: Di Tempat Ini Sejarah Pernah Ditulis
Video Mapping Budaya...
Video Mapping Budaya Tionghoa Sambut Perayaan Imlek di Kota Tua Jakarta
Kota Tua Jakarta Siapkan...
Kota Tua Jakarta Siapkan Transisi Budaya usai Imlek Jelang Ramadan
Viral Aksi Pungli di...
Viral Aksi Pungli di Kota Tua, Pramono: Nggak Ada Kompromi Saya Akan Bebas Tugaskan
Menjelajah Batavia Lama,...
Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin di Jantung Kota Tua Jakarta
Menjelajah Batavia Lama,...
Menjelajah Batavia Lama, Jejak Bung Karno hingga Charlie Chaplin di Kota Tua Jakarta
Menembus Lima Abad Sejarah...
Menembus Lima Abad Sejarah Jakarta dari Kamar House of Tugu di Kota Tua
Rekomendasi
Urutan Mandi Wajib Setelah...
Urutan Mandi Wajib Setelah Haid yang Benar agar Sah Melaksanakan Ibadah Fardhu Lagi
Pertamina Siap Turunkan...
Pertamina Siap Turunkan Harga BBM secara Bertahap Mulai Awal Juli
Dembele Ukir Hat-trick...
Dembele Ukir Hat-trick Tercepat Kedua dalam Sejarah Piala Dunia
Berita Terkini
Aksi Mahasiswa Bagian...
Aksi Mahasiswa Bagian dari Kontrol Jalannya Pemerintahan
Tuntaskan Jaringan 8,1...
Tuntaskan Jaringan 8,1 Km, Kapal Perang TNI AL Angkut 100 Ton Pipa Air Bersih YTBN Menuju Adonara
Demo Ricuh di Grahadi...
Demo Ricuh di Grahadi Surabaya, Belasan Pendemo Diduga Provokator Ditangkap
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
Sejak 2023, Kabel Udara...
Sejak 2023, Kabel Udara Sepanjang 11 Kilometer di Jakarta Barat Direlokasi
4 Pelaku Penyekapan...
4 Pelaku Penyekapan Karyawan Padel Langsung Ditahan
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved