Adityawarman Menteri Senior Keturunan Singasari di Era Raja Majapahit Tribhuwana Tunggadewi Berkuasa
Selasa, 17 Juni 2025 - 06:37 WIB
Adityawarman merupakan keluarga dekat Tribhuwana Tunggadewi sang penguasa ketiga Kerajaan Majapahit. Sosoknya dijadikan arca yang dinamakan Arca Manjustri, di sebuah Candi Jinalaya.
Baca juga: Kisah Tribhuwana Tunggadewi Jadi Raja Majapahit usai Gayatri Tak Mau Naik Tahta
Konon identifikasi Adityawarman yang diarcakan terlihat pada piagam Sanskerta Pu Adityawarman, dengan tulisan "Sebuah Arca Manjustri ditempatkan di Candi Jinalaya oleh Arya Wangsadiraja.
Dikutip dari "Tafsir Sejarah Negarakretagama" dari karangan Prof. Slamet Muljana, Manjustri sendiri adalah Bodhisattwa, biasanya diwujudkan sebagai seorang pemuda, yang memegang pedang terhunus di tangannya yang satu, dan sebuah buku di tangannya yang lain.
Pedang itu dimaksudkan sebagai alat untuk memberantas penasaran dan kepalsuan, sedangkan buku itu mengandung ajaran tentang sepuluh laku utama, cita-cita Bodhisatwa yang disebut paramita, yakni dana: derma, sila: tatasila.
Kemudian ksanti: kesabaran, virya: keperwiraan, dyana: meditasi atau samadi, prajnya: kebijaksanaan, upaya-kausalya: sarana, usaha, pranidhana: ketegasan, bala: kekuasaan, dan jinyana: pengetahuan.
Pada umumnya uraian di atas sesuai dengan wujud Arca Manjustri dari Singasari, tetapi ada juga sekedar perbedaannya. Arca Manjustri dari Singasari berupa seorang bangsawan, bermahkota tinggi, duduk bersila, tangan kanannya memegang keris, tangan kirinya ditempelkan pada dada, buku paramita terletak di pangkuan.
Baca juga: Kisah Tribhuwana Tunggadewi Jadi Raja Majapahit usai Gayatri Tak Mau Naik Tahta
Konon identifikasi Adityawarman yang diarcakan terlihat pada piagam Sanskerta Pu Adityawarman, dengan tulisan "Sebuah Arca Manjustri ditempatkan di Candi Jinalaya oleh Arya Wangsadiraja.
Dikutip dari "Tafsir Sejarah Negarakretagama" dari karangan Prof. Slamet Muljana, Manjustri sendiri adalah Bodhisattwa, biasanya diwujudkan sebagai seorang pemuda, yang memegang pedang terhunus di tangannya yang satu, dan sebuah buku di tangannya yang lain.
Pedang itu dimaksudkan sebagai alat untuk memberantas penasaran dan kepalsuan, sedangkan buku itu mengandung ajaran tentang sepuluh laku utama, cita-cita Bodhisatwa yang disebut paramita, yakni dana: derma, sila: tatasila.
Kemudian ksanti: kesabaran, virya: keperwiraan, dyana: meditasi atau samadi, prajnya: kebijaksanaan, upaya-kausalya: sarana, usaha, pranidhana: ketegasan, bala: kekuasaan, dan jinyana: pengetahuan.
Pada umumnya uraian di atas sesuai dengan wujud Arca Manjustri dari Singasari, tetapi ada juga sekedar perbedaannya. Arca Manjustri dari Singasari berupa seorang bangsawan, bermahkota tinggi, duduk bersila, tangan kanannya memegang keris, tangan kirinya ditempelkan pada dada, buku paramita terletak di pangkuan.
Lihat Juga :