Airlangga, Raja yang Memerintah dengan Toleransi Beragama dan Dekat dengan Pendeta
Sabtu, 07 Juni 2025 - 06:35 WIB
Ritus kehidupan keagamaan sangat ditekankan baik oleh dirinya maupun rakyatnya. Hal ini barangkali telah diawali dengan masa penempaan dirinya dalam tapa yang dilakukan. Sejak awal keberadaannya di Jawa, yaitu sejak ia melarikan diri ke hutan setelah peristiwa Mahapralaya.
Airlangga disebut hidup di pertapaan dan berpakaian seperti pertapa serta hidup seperti pertapa dan tak putus-putusnya melakukan pemujaan pada dewa. Sebagian ahli berpendapat bahwa keberadaan Airlangga di pertapaan di hutan disebabkan karena ia melarikan diri dan menyamar supaya tidak diketahui oleh musuhnya.
Namun, De Casparis tidak setuju dengan anggapan tersebut. Ia mengatakan bahwa masa tersebut lebih cocok dianggap sebagai "masa persiapan rohani" bagi Airlangga, yakni persiapan rohani untuk perjuangan yang akan dihadapinya untuk membangun kembali negaranya kembali.
Baca juga: 22 Jenderal Angkatan Darat Digeser Panglima TNI, 2 Pati dari Baret Merah Kopassus
Pada masa itu Airlangga dan pengiringnya termasuk Narottama hidup sebagai pertapa dan menaati segala kewajiban yang diberlakukan di situ. Prasasti Pucangan Sansekerta memakai istilah yakni berpakaian dari kulit pohon. Pada umumnya kewajiban-kewajiban di pertapaan meliputi yoga, yaitu latihan-latihan jasmani dan rohani untuk dapat mengatasi segala jenis hawa nafsu, rintangan dan memusatkan pikirannya semata- mata kepada cita-cita yang luhur.
Airlangga disebut hidup di pertapaan dan berpakaian seperti pertapa serta hidup seperti pertapa dan tak putus-putusnya melakukan pemujaan pada dewa. Sebagian ahli berpendapat bahwa keberadaan Airlangga di pertapaan di hutan disebabkan karena ia melarikan diri dan menyamar supaya tidak diketahui oleh musuhnya.
Namun, De Casparis tidak setuju dengan anggapan tersebut. Ia mengatakan bahwa masa tersebut lebih cocok dianggap sebagai "masa persiapan rohani" bagi Airlangga, yakni persiapan rohani untuk perjuangan yang akan dihadapinya untuk membangun kembali negaranya kembali.
Baca juga: 22 Jenderal Angkatan Darat Digeser Panglima TNI, 2 Pati dari Baret Merah Kopassus
Pada masa itu Airlangga dan pengiringnya termasuk Narottama hidup sebagai pertapa dan menaati segala kewajiban yang diberlakukan di situ. Prasasti Pucangan Sansekerta memakai istilah yakni berpakaian dari kulit pohon. Pada umumnya kewajiban-kewajiban di pertapaan meliputi yoga, yaitu latihan-latihan jasmani dan rohani untuk dapat mengatasi segala jenis hawa nafsu, rintangan dan memusatkan pikirannya semata- mata kepada cita-cita yang luhur.
Lihat Juga :