Kisah Konflik Internal Keluarga Penguasa Mataram Pasca Perintah Pembunuhan Ulama
Sabtu, 10 Mei 2025 - 06:56 WIB
Sultan Amangkurat I pun akan mengunjunginya keesokan harinya untuk menyampaikan maaf, dan memerintahkan putranya itu agar tetap bersama ayahnya untuk dapat membantu menghormati para tamu. Tetapi sang putra Raden Mas, yang dapat menangkap artinya menolak.
Namun sekali lagi sang anak menolak, karena ia menganggap bukan abdi ayahnya, melainkan abdi Sultan Amangkurat I. Hidup serta matinya berada di tangan Sunan. Raja memerintahkan kepadanya supaya taat, kalau tidak mau terkena murka Raja.
Lalu ditariknya semua anak buahnya, dan disuruhnya pergi kepada ayahnya, dan dikumpulkannya tidak kurang dari 200.000 orang dan segala kekuatan dari kawan- kawannya semua, untuk mendatangi pamannya, Purbaya. Orang tua ini tidak menjadi goyah untuk menghadap ke istana.
Selanjutnya dikirimnya putranya kembali kepada Sunan untuk menyatakan rasa terima kasihnya atas kehormatan yang sesungguhnya tidak patut diberikan kepadanya itu. Ia, Raden Mas, harus tetap mengabdi kepada Raja, karena ia, Purbaya, cukup pandai untuk menerima atasannya dengan cara yang semestinya.
Namun sekali lagi sang anak menolak, karena ia menganggap bukan abdi ayahnya, melainkan abdi Sultan Amangkurat I. Hidup serta matinya berada di tangan Sunan. Raja memerintahkan kepadanya supaya taat, kalau tidak mau terkena murka Raja.
Lalu ditariknya semua anak buahnya, dan disuruhnya pergi kepada ayahnya, dan dikumpulkannya tidak kurang dari 200.000 orang dan segala kekuatan dari kawan- kawannya semua, untuk mendatangi pamannya, Purbaya. Orang tua ini tidak menjadi goyah untuk menghadap ke istana.
Selanjutnya dikirimnya putranya kembali kepada Sunan untuk menyatakan rasa terima kasihnya atas kehormatan yang sesungguhnya tidak patut diberikan kepadanya itu. Ia, Raden Mas, harus tetap mengabdi kepada Raja, karena ia, Purbaya, cukup pandai untuk menerima atasannya dengan cara yang semestinya.
(rca)
Lihat Juga :