Taktik Licik Belanda Kirim Mata-mata Warga Pribumi di Awal Ramadan Intai Pangeran Diponegoro

Senin, 03 Maret 2025 - 07:00 WIB
Setelah melakukan persiapan, pada 9 Juni 1826 Kolonel Cochius dengan kekuatan 7.342 orang menyerbu Benteng Pleret dari empat penjuru. Setelah bertempur satu hari, yang banyak menelan korban dari kedua belah pihak Kerto Pengalasan dapat meloloskan diri ke arah barat, menuju Jekso (Dekso).

Baca juga: Duka Operasi Seroja, 129 Prajurit Terbaik Kopassus Gugur di Timtim

Pada operasi pengejaran ini, spionase atau mata - mata dari pribumi memberikan informasi perihal pelarian Pangeran Diponegoro dan pasukannya. Beberapa spionase yang dikerahkan Belanda, satu spionase merupakan Abdi Dalem Ngabehi Pancayatna, yang diperintahkan mengamati markas Pangeran Diponegoro.

Lantas abdi dalem ini mengutus Ki Sapengawat mencari dan mengamati pesanggrahan Diponegoro, pada hari Ahad 8 Ramadan di 1826 Masehi. Di sanalah spionase Belanda itu sempat berkunjung ke rumah salah satu saudaranya, yang sempat bertemu Pangeran Diponegoro.

Sang Pangeran pun berujar, di bulan puasa atau Ramadan saat itu harus bersiaga karena lawan terus mengintainya. Sang spionase ini juga memperoleh informasi pasukan Diponegoro sudah berpindah markas hingga ke sebuah wilayah bernama Desa Jekso.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!