Empat Faktor Pangeran Diponegoro Marah ke Belanda hingga Memicu Perang Jawa

Kamis, 20 Februari 2025 - 09:04 WIB
Kedua, Diponegoro tidak suka terhadap cara mengembalikan uang sewa tanah di Bedoyo yang berstatus milik Raja. Karena para bangsawan tidak mampu membayar utang-utang pengembalian sewa tanah, oleh para penyewa dibebankan kepada Sultan (kerajaan).

Ketiga, adanya pengusiran terhadap rakyat. Rakyat dipaksa pindah oleh para planters karena desanya termasuk tanah yang disewakan. Keempat, aktivitas para rentenir China yang memaksa petani menggadaikan sawahnya dan menentukan secara sepihak harga jual hasil panennya ditambah dengan bunganya secara paksa, sehingga banyak orang kecil keluar dari desanya membantu Diponegoro.

Sumber lain dari surat Pangeran Blitar (adik Sultan Sepuh) kepada Sultan Sepuh Hamengkubuwono II pada 10 Oktober 1826. Di dalamnya dijelaskan sebab-sebab Diponegoro memberontak. Pertama, tingkah laku Patih Danurejo terhadap anak-anak dan keluarganya Pangeran Diponegoro.

Kedua, Patih Danurejo telah berbuat melampaui kewenangannya yaitu mengubah susunan kehakiman. Ketiga, surat-menyurat dari Residen Smissaert tidak pernah menyebut gelar Pangeran hanya menulis Diponegoro. Penyebutan nama tersebut rupanya atas inisiatif penerjemah Dietre dengan persetujuan Patih Danurejo dan Kolonel Wironegoro.

Keempat, sekitar penggantian Penghulu Rahmanuddin sebagai imam kerajaan dengan alasan sudah tua. Ratu Kencono, Janda Sultan IV, anak Danurejo IV, yang tidak mau mendengar nasihat Diponegoro dan menyerahkan semua permasalahan kepada Patih. Imam Besar hanya diangkat oleh Sultan sendiri, karena Sultan masih kecil tidak mungkin mengangkat seorang Imam Besar. Atas peristiwa ini Diponegoro merasa terhina.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!