Golkar Eksis Karena Kerja Politik Bukan Tergantung Pada Figur
Senin, 31 Agustus 2020 - 05:31 WIB
Pembukaan Musda X Partai Golongan Karya Kota Yogyakarta. Agus Mulyono (kiri) terpilih menjadi Ketua DPD Partai Golkar Kota Yogyakarta periode 2020-2025. FOTO : IST
YOGYAKARTA - Partai Golkar berkembang dan jaya bukan karena figur. Golkar eksis lantaran kerja politik yang selalu tunduk dan tegak lurus dengan konstitusi partai.
“Partai Golkar besar bukan karena figur. Jangan sampai struktur kita dikendalikan oleh oknum atau figur di luar mekanisme AD/ART. Ini malapetaka jika tidak dihadapi dengan tegas dan lugas. Mekanisme AD/ART adalah holistik tegak lurus tak lekang dan lapuk oleh hujan dan panas,” tegas Ketua DPD Partai Golkar DIY Gandung Pardiman saat memberikan sambutan pada Musyawarah Daerah (Musda) X Partai Golongan Karya Kota Yogyakarta, di KJ Hotel Jalan Parangtritis, Yogya, Minggu (30/8/2020).
Gandung menyebut saat ini adalah waktunya membangun militansi, loyalitas dan karakter kader. Menurutnya, pemimpin adalah pribadi yang mengorbankan diri bukan membanggakan diri di dalam organisasi. Pemimpin tidak boleh justru membawa malapetaka organisasi karena tidak menyadari hakikatnya sebagai pemimpin.
“Saya berdoa mulai detik ini semua pengurus satu komando dalam bingkai pokok-pokok ketentuan organisasi, AD/ART, visi misi bukan orang per orang. Kita digerakkan semangat maju bersama bukan iming-iming uang,” tegasnya.(Baca juga : Golkar Partai Egaliter, Tak Ada Istilah Pemecatan Kader )
“Partai Golkar besar bukan karena figur. Jangan sampai struktur kita dikendalikan oleh oknum atau figur di luar mekanisme AD/ART. Ini malapetaka jika tidak dihadapi dengan tegas dan lugas. Mekanisme AD/ART adalah holistik tegak lurus tak lekang dan lapuk oleh hujan dan panas,” tegas Ketua DPD Partai Golkar DIY Gandung Pardiman saat memberikan sambutan pada Musyawarah Daerah (Musda) X Partai Golongan Karya Kota Yogyakarta, di KJ Hotel Jalan Parangtritis, Yogya, Minggu (30/8/2020).
Gandung menyebut saat ini adalah waktunya membangun militansi, loyalitas dan karakter kader. Menurutnya, pemimpin adalah pribadi yang mengorbankan diri bukan membanggakan diri di dalam organisasi. Pemimpin tidak boleh justru membawa malapetaka organisasi karena tidak menyadari hakikatnya sebagai pemimpin.
“Saya berdoa mulai detik ini semua pengurus satu komando dalam bingkai pokok-pokok ketentuan organisasi, AD/ART, visi misi bukan orang per orang. Kita digerakkan semangat maju bersama bukan iming-iming uang,” tegasnya.(Baca juga : Golkar Partai Egaliter, Tak Ada Istilah Pemecatan Kader )
Lihat Juga :