Rumah Batik dan Perjuangan Menaklukan Keterbatasan
Selasa, 12 November 2024 - 11:09 WIB
Rumah Batik TBIG membagi kelas belajarnya menjadi tiga kategori: Kelas Reguler A untuk peserta pelatihan usia produktif, Kelas Reguler B untuk peserta berkebutuhan khusus, dan Kelas Kursus Jangka Pendek untuk siswa sekolah dasar hingga mahasiswa. Menurut Joko Padmanto, salah satu trainer Rumah Batik TBIG, pada Batch V ini Kelas Reguler A diikuti 27 peserta dengan 20 orang di antaranya lulus. Adapun Kelas Reguler B diikuti 12 peserta dan semuanya lulus. Pembelajaran dilakukan selama 6 bulan per sesi, terdiri dari dua semester, meliputi desain batik, pelekatan lilin, pewarnaan, dan penyempurnaan produk.
Ada beberapa syarat kelulusan seorang siswa agar bisa diwisuda. Yaitu, tingkat keaktifan mengikuti program dan penyelesaian project. Pertama, peserta tidak hadir melebihi 30 persen dari total 40 kali pertemuan dalam satu semester. Kedua, peserta yang tidak mampu menyelesaikan project bakal otomatis gagal.
Rumah Batik TBIG adalah sebuah inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) pada pilar budaya. Perusahaan punya empat pilar CSR yaitu Bangun Sehat Bersama, (kesehatan), Bangun Cerdas Bersama (pendidikan), Bangun Hijau Bersama (lingkungan), dan Bangun Budaya Bersama (budaya). “Di sini peserta tidak hanya belajar seputar proses membuat batik, tetapi juga seluk-beluk bisnis yang berputar di dalamnya. Program Rumah Batik TBIG ingin mendorong siswa mengembangkan kewirausahaan,” cetus Head of CSR Department PT Tower Bersama Infrastructure Tbk Fahmi Sutan Alatas.
Rumah Batik TBIG menerapkan sistem pembelajaran berjenjang mulai pelatihan skill membatik, kewirausahaan, dan jenjang inkubasi. Pada jenjang inkubasi, siswa Rumah Batik TBIG akan diberikan pesanan produksi batik dalam jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhan jaringan toko batik di Jakarta, Semarang, Solo, Cirebon dan Surabaya. Pada jenjang inkubasi ini, siswa belajar mengelola sebuah usaha skala mikro dengan bantuan permodalan tiga kali siklus produksi berbunga nol persen melalui Koperasi Bangun Bersama (KBB).
Setiap siklus yang berhasil dipenuhi, jumlah produksi akan ditingkatkan hingga akhirnya perajin menjadi pemasok batik secara reguler untuk koperasi. Batik yang diterima pun telah lulus quality control yang ketat. Selain itu, koperasi pendamping bertindak sebagai caretaker dengan memberikan kepastian pembayaran tunai kepada perajin. Ini konsep yang sangat berbeda dibandingkan jika batik perajin disimpan di toko dengan pembayaran yang biasanya lebih lama dan tidak ada kepastian.
Menurut Fahmi, pembinaan berkelanjutan ini sangat relevan karena menunjukan wujud tanggung jawab sosial yang sebenarnya. Pembinaan menyeluruh kepada peserta memberikan solusi yang bisa dijalankan. Rumah Batik TBIG diibaratkan burung-burung yang bisa bertelur, bukan hanya burung yang cantik dilihat. "Kami nggak mau cuma kasih solusi yang mengawang, harus solusi konkret dan jangka panjang," ujarnya.
Ramah Lingkungan
Ada beberapa syarat kelulusan seorang siswa agar bisa diwisuda. Yaitu, tingkat keaktifan mengikuti program dan penyelesaian project. Pertama, peserta tidak hadir melebihi 30 persen dari total 40 kali pertemuan dalam satu semester. Kedua, peserta yang tidak mampu menyelesaikan project bakal otomatis gagal.
Rumah Batik TBIG adalah sebuah inisiatif Corporate Social Responsibility (CSR) PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) pada pilar budaya. Perusahaan punya empat pilar CSR yaitu Bangun Sehat Bersama, (kesehatan), Bangun Cerdas Bersama (pendidikan), Bangun Hijau Bersama (lingkungan), dan Bangun Budaya Bersama (budaya). “Di sini peserta tidak hanya belajar seputar proses membuat batik, tetapi juga seluk-beluk bisnis yang berputar di dalamnya. Program Rumah Batik TBIG ingin mendorong siswa mengembangkan kewirausahaan,” cetus Head of CSR Department PT Tower Bersama Infrastructure Tbk Fahmi Sutan Alatas.
Rumah Batik TBIG menerapkan sistem pembelajaran berjenjang mulai pelatihan skill membatik, kewirausahaan, dan jenjang inkubasi. Pada jenjang inkubasi, siswa Rumah Batik TBIG akan diberikan pesanan produksi batik dalam jumlah tertentu untuk memenuhi kebutuhan jaringan toko batik di Jakarta, Semarang, Solo, Cirebon dan Surabaya. Pada jenjang inkubasi ini, siswa belajar mengelola sebuah usaha skala mikro dengan bantuan permodalan tiga kali siklus produksi berbunga nol persen melalui Koperasi Bangun Bersama (KBB).
Setiap siklus yang berhasil dipenuhi, jumlah produksi akan ditingkatkan hingga akhirnya perajin menjadi pemasok batik secara reguler untuk koperasi. Batik yang diterima pun telah lulus quality control yang ketat. Selain itu, koperasi pendamping bertindak sebagai caretaker dengan memberikan kepastian pembayaran tunai kepada perajin. Ini konsep yang sangat berbeda dibandingkan jika batik perajin disimpan di toko dengan pembayaran yang biasanya lebih lama dan tidak ada kepastian.
Menurut Fahmi, pembinaan berkelanjutan ini sangat relevan karena menunjukan wujud tanggung jawab sosial yang sebenarnya. Pembinaan menyeluruh kepada peserta memberikan solusi yang bisa dijalankan. Rumah Batik TBIG diibaratkan burung-burung yang bisa bertelur, bukan hanya burung yang cantik dilihat. "Kami nggak mau cuma kasih solusi yang mengawang, harus solusi konkret dan jangka panjang," ujarnya.
Ramah Lingkungan
Lihat Juga :