Kisah Bhre Wirabhumi, Anak Selir Hayam Wuruk Pemecah Majapahit Timur dan Barat
Minggu, 13 Oktober 2024 - 08:00 WIB
Sejak tahun 1388, Bhre Wirabhumi yang menjadi Bhre Daha, secara resmi telah menguasai wilayah timur Majapahit yang sebelumnya dikuasai oleh leluhurnya, Hyang Parameswara Wijayarajasa, sejak tahun 1377.
Bhre Daha, yang dalam sejarah dikenal sebagai Put-ling-ta-ha, menggunakan posisi politik dan aliansinya untuk mempertahankan kekuasaan di Majapahit Timur. Namun, ketegangan antara dua faksi keluarga kerajaan ini tetap mengakar.
Baca juga: Kisah Heroik Pasukan Garuda TNI Cegat Konvoi Tank Israel Gagalkan Perang di Lebanon
Akhirnya, Perang Paregreg yang pecah pada awal abad ke-15, menjadi simbol konflik internal yang melemahkan Majapahit, hingga akhirnya menyebabkan fragmentasi politik dan berkurangnya pengaruh kerajaan di Nusantara.
Konflik tersebut juga menjadi pertanda melemahnya kekuatan Majapahit secara keseluruhan. Meskipun Wikramawardhana memenangkan Perang Paregreg, kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik internal ini membuat Majapahit tidak lagi sekuat sebelumnya.
Di bawah tekanan konflik keluarga, keretakan kekuasaan, serta tantangan dari luar, kejayaan Majapahit perlahan meredup setelah abad ke-15. Perpecahan Majapahit menjadi barat dan timur menandai fase baru dalam sejarah kerajaan besar ini.
Di mana Bhre Wirabhumi menjadi tokoh sentral di wilayah timur. Pertikaian internal, perebutan takhta, dan aliansi politik yang rumit di dalam keluarga kerajaan Majapahit menunjukkan betapa kompleksnya dinamika kekuasaan pada masa itu.
Bhre Wirabhumi penguasa Majapahit Timur memanfaatkan hubungan politiknya, termasuk hubungan dengan China, untuk mengokohkan kekuasaan, meski akhirnya konflik internal menjadi faktor kunci menurunnya kekuatan Majapahit sebagai kerajaan besar di Asia Tenggara.
Bhre Daha, yang dalam sejarah dikenal sebagai Put-ling-ta-ha, menggunakan posisi politik dan aliansinya untuk mempertahankan kekuasaan di Majapahit Timur. Namun, ketegangan antara dua faksi keluarga kerajaan ini tetap mengakar.
Baca juga: Kisah Heroik Pasukan Garuda TNI Cegat Konvoi Tank Israel Gagalkan Perang di Lebanon
Akhirnya, Perang Paregreg yang pecah pada awal abad ke-15, menjadi simbol konflik internal yang melemahkan Majapahit, hingga akhirnya menyebabkan fragmentasi politik dan berkurangnya pengaruh kerajaan di Nusantara.
Konflik tersebut juga menjadi pertanda melemahnya kekuatan Majapahit secara keseluruhan. Meskipun Wikramawardhana memenangkan Perang Paregreg, kerusakan yang ditimbulkan oleh konflik internal ini membuat Majapahit tidak lagi sekuat sebelumnya.
Di bawah tekanan konflik keluarga, keretakan kekuasaan, serta tantangan dari luar, kejayaan Majapahit perlahan meredup setelah abad ke-15. Perpecahan Majapahit menjadi barat dan timur menandai fase baru dalam sejarah kerajaan besar ini.
Di mana Bhre Wirabhumi menjadi tokoh sentral di wilayah timur. Pertikaian internal, perebutan takhta, dan aliansi politik yang rumit di dalam keluarga kerajaan Majapahit menunjukkan betapa kompleksnya dinamika kekuasaan pada masa itu.
Bhre Wirabhumi penguasa Majapahit Timur memanfaatkan hubungan politiknya, termasuk hubungan dengan China, untuk mengokohkan kekuasaan, meski akhirnya konflik internal menjadi faktor kunci menurunnya kekuatan Majapahit sebagai kerajaan besar di Asia Tenggara.
(ams)
Lihat Juga :