Ketergantungan Warga terhadap Qris Tinggi, Perlu Sosialisasi Maksimal

Rabu, 09 Oktober 2024 - 06:58 WIB
Lebih lanjut, Eko mengaku, terus mendorong dan membuat program khusus soal mengelola digital payment, pembukuan dan tracing transaksi dengan menggandeng perbankan.Dia juga kerap mengedukasi agar pelaku usaha UMKM bisa melembagakan bisnis berlembaga hukum.

"Karena kini warga lebih percaya pas bayar Qris yang muncul nama PT atau perusahaannya ketimbang nama pribadi," ucap Eko.

Kendati demikian, Eko memberi catatan khusus soal literasi digital payment yang masih belum merata dan maksimal di Indonesia. Eko berharap ke depan, pemerintah dan perbankan lebih massif sosialisasi soal literasi penggunaan pembayaran digital untuk semua kalangan dan pasar.

"Saya pernah iseng main ke pasar kaget, rata-rata penjual yang sudah berumur bilang masih belum paham soal Qris dan pembayaran digital karena merasa ribet. Mindset mereka masih cash. Padahal market sekarang yang suka jajan di bawah umur 50, mereka sudah lebih suka cashless," jelas

Indra, praktisi dan juga Dirut Utama PT TDC yang merupakan perusahaan keuangan digital membenarkan efisiensi dan keuntungan yang dirasakan oleh penguna Qris.

"Contohnya poskulite, yang menyediakan layanan Qris. Tidak perlu bayar untuk diunduh, gratis, dan fiturnya mudah dipelajari,” ujarnya.

Ia mencontohkan, fitur Kasirku di poskulite merupakan fitur utama untuk berjualan. Dengan Fitur Kasirku, pengguna dapat menerima pembayaran secara fleksibel melalui cash, Qris, dan bank transfer.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!