Perlawanan Arek-arek Malang dalam Perang Pertahankan Kemerdekaan Melawan Belanda di Coban Jahe

Senin, 12 Agustus 2024 - 08:28 WIB
Mereka ditugasi untuk merebut pos Tosari yang berhasil ditaklukkan Belanda pada 22 Desember 1948. Namun saat pasukan perjalanan ke Pasuruan, terhalang oleh pertahanan yang kuat oleh Belanda.

“Dari sana pasukan kembali ke arah Malang dan sampai ke Kalijahe. Namun di Kalijahe ini mereka terjebak hujan dan cuaca buruk selama dua hari di hutan Kalijahe. Tapi saat berada di Kalijahe ini para pasukan diserang dari atas pegunungan oleh pasukan Belanda,” ujar Eko dikutip Senin (12/8/2024).

Baca juga: Karomah Bambu Runcing Kiai Ahmad Fauzan Mampu Usir Tentara Jepang dan Belanda dari Pati

Eko menjelaskan bila meski para pejuang telah berhati-hati dan berjalan kaki di sepanjang hutan lembah untuk menghindari pasukan Belanda. Namun ternyata ada warga pribumi yang membocorkan tempat persembunyian pasukan Gagak Lodra ini.

“Ada warga kita yang membocorkan ke Belanda mengatakan ada pasukan gerilyawan ini berada di lembah hutan Kalijahe. Kan memang warga sendiri ada yang pro dan kontra Belanda. Jadi mungkin Belanda ini bisa memprovokasi warga pribumi untuk menjadi mata-mata,” terang pria yang juga pengelola Museum Reenactor Ngalam.

Pertempuran selama dua hari di Coban Jahe ini berjalan tak seimbang. Pasukan Belanda yang menggunakan senapan otomatis dan granat berada di atas bukit dengan kekuatan pasukan lebih banyak. Sedangkan gerilyawan pejuang Indonesia hanya dengan persenjataan senapan rampasan perang dan berada di lembah atau bawah bukit.

Belum lagi saat pertempuran kondisi hujan dan kabut membuat pejuang Indonesia kesulitan melihat lawan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!