Distribusi Apoteker di Indonesia Tak Merata, Lulusan STFI Didorong Mengabdi di Tanah Kelahiran

Sabtu, 27 April 2024 - 22:46 WIB
"Tapi balik lagi, kan tidak bisa dipaksa. Rata-rata malas balik ke tempat asalnya. Kami (STFI) banyak lulusan dari Sumatera, Kalimatan, itu 10 persen menetap di Bandung, kerja dan cari jodoh di Bandung," ujar Adang Firmansyah.

Padahal, tutur Ketua STFI, daerah sangat membutuhkan apoteker. Ketimpangan apoteker Indonesia, antara Jawa dan daerah lain besar, lebih dari 40-60 persen.

Baca juga: 7 Prospek Kerja Jurusan Farmasi selain Apoteker, Bisa Jadi R&D hingga Dosen

Di NTT dan Papua, satu provinsi hanya memiliki berapa apoteker. Sementara di Pulau Jawa, hampir setiap puskesmas punya apoteker.

"Masalahnya itu, selain biaya hidup, sallary, dan akses. Kalau sallary besar, tapi Anda di Papua, kan belum tentu mau, kecuali warga asli. Kami mendorong lulusan, kalau asli Papua, balik ke Papua. Asal NTT kembali ke NTT," tutur dia.

"Alhamdulillahnya, 80 persen (apoteker lulusan STFI) balik ke daerah, walapun ada 20 persen yang kerja di Bandung atau Jakarta. Apoteker sangat mudah diserap pasar kerja. Kami melihat dari waktu tunggu lulusan kami (STFI) tidak pernah lebih dari tiga bulan setelah itu habis, langsung kerja. Kalau apoteker waktu tunggu lulusan satu bulan, S1 tiga bulan," ucap Adang Firmansyah.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!