Sosok Haji Nawi yang Namanya Diabadikan sebagai Jalan dan Stasiun MRT
Senin, 06 November 2023 - 06:04 WIB
Haji Nawi tokoh Betawi yang namanya diabadikan sebagai nama jalan dan salah satu stasiun MRT Jakarta. Foto/MPI/Ilustrasi.dok
JAKARTA - Haji Nawi nama ini tak asing bagi warga Jakarta khususnya yang tinggal di wilayah Jakarta Selatan. Haji Nawi diabadikan sebagai nama jalan dan kini menjadi nama salah satu Stasiun MRT Jakarta .
Lalu siapakah sosok Haji Nawi sehingga diabadikan menjadi salah nama jalan di Cilandak, Jakarta Selatan. Berbagai sumber menyebut, Haji Nawi adalah seorang tuan tanah kaya raya asal Gandaria, Jakarta Selatan.
Bahkan, namanya sangat terkenal sebagai orang paling kaya di wilayah tersebut. Lahir di Jakarta (kala itu bernama Batavia) pada 1877, Haji Nawi dikenal sebagai pribadi yang murah hati dan amat bijaksana.
Meskipun lahir dan besar di Jakarta, namun ia disebut memiliki darah Cirebon dari sang kakek. Haji Nawi memiliki 7 orang anak dari 4 pernikahannya.
Haji Nawi kerap terlihat mengontrol tanahnya yang tersebar di kampung-kampung dengan menggunakan kuda putih kesayangannya. Sebab, di zaman itu belum ada kendaraan yang bisa ia gunakan.
Kemahirannya dalam berkuda ia pelajari langsung dari sang juru tulis, Haji Jadit. Pada 1934, Haji Nawi wafat dan banyak meninggalkan hal baik. Termasuk kenangan masyarakat sekitar tentang kedermawanannya.
Lalu siapakah sosok Haji Nawi sehingga diabadikan menjadi salah nama jalan di Cilandak, Jakarta Selatan. Berbagai sumber menyebut, Haji Nawi adalah seorang tuan tanah kaya raya asal Gandaria, Jakarta Selatan.
Bahkan, namanya sangat terkenal sebagai orang paling kaya di wilayah tersebut. Lahir di Jakarta (kala itu bernama Batavia) pada 1877, Haji Nawi dikenal sebagai pribadi yang murah hati dan amat bijaksana.
Meskipun lahir dan besar di Jakarta, namun ia disebut memiliki darah Cirebon dari sang kakek. Haji Nawi memiliki 7 orang anak dari 4 pernikahannya.
Haji Nawi kerap terlihat mengontrol tanahnya yang tersebar di kampung-kampung dengan menggunakan kuda putih kesayangannya. Sebab, di zaman itu belum ada kendaraan yang bisa ia gunakan.
Kemahirannya dalam berkuda ia pelajari langsung dari sang juru tulis, Haji Jadit. Pada 1934, Haji Nawi wafat dan banyak meninggalkan hal baik. Termasuk kenangan masyarakat sekitar tentang kedermawanannya.
Lihat Juga :