Mantan Pelaku Terorisme Bagikan Strategi Cegah Paham Radikal ke Pelajar SMA di Semarang

Selasa, 12 September 2023 - 14:14 WIB
“Saat saya ditahan di Rutan Cikeas, ternyata 30 persen narapidana terorisme di sana terpapar karena ‘Syaikh Google’ alias googling, jadi belajar agama tanpa guru, mereka hanya terikat jaringan internet, di Telegram atau WhastApp Grup. Berbeda dengan kami yang dulu memiliki jaringan yang konkrit,” jelasnya di depan para pelajar.

Dua pola itu, yakni pola pengajian bertemu langsung alias offline kemudian menjadi eksklusif dan pola terpapar melalui internet itu, kata Hamas, perlu menjadi kewaspadaan bersama.

“Kalau di internet menemukan yang berbau radikal, tanyakan kepada guru atau seseorang yang mengerti, jangan mudah men-share, tidak semua yang ada di media sosial, di YouTube itu betul,” lanjutnya seraya menanggapi pertanyaan dari Qori, siswi SMA N 1 Semarang, salah satu peserta yang hadir di ruangan.

Baca Juga: Cegah Paham Radikalisme Berkembang, Kemenkumham Berharap Sel Napiter Dipisah

Selain itu, titik balik yang membuat Hamas sadar adalah rasa ‘bersalah’ kepada ibu. Sebab, ketika tergelincir bergabung kelompok JI, hampir 20 tahun mengabaikan keluarganya termasuk ibu. Saat ditangkap dan dipenjara itulah perenungan demi perenungan membuatnya mantap meninggalkan paham dan kelompok lamanya.

“Apalagi saat ditangkap, ada seorang jenderal Densus 88 mendatangi saya, saat itu mata saya ditutup, beliau berbicara ‘seorang yang sukses tidak lepas dari ibu, harus berbakti kepada ibu’,” ceritanya sembari percaya prosesnya sampai hari ini, apalagi saat ditangkap dan bebas dengan proses yang relatif lancar tidak lepas dari doa ibunya.

Dia berpesan kepada para pelajar yang hadir untuk bisa belajar mengenai hal-hal itu, agar ke depan bisa menjadi agen-agen perdamaian, menyerukan nilai-nilai toleransi dan moderasi beragama.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!