Cerita Pergolakan Kesultanan Islam di Sumatera, Beda Aliran hingga Rebutan Lada Aceh

Minggu, 10 September 2023 - 06:15 WIB
Pedagang-pedagang Persi dan Arab, yang banyak berlayar ke pantai timur Sumatra, membawa dagangan lada dan mencoba menanam lada di daerah Aceh. Perlak dijadikan bandar utama di pantai timur Sumatra bagian utara untuk ekspor lada, karena eskpor lada mendatangkan banyak keuntungan.

Maka pedagang-pedagang asing dari Mesir, Persi dan Gujarat, yang datang di pelabuhan Perlak dan kemudian menetap di situ, ingin menguasai seluruhnya hasil lada yang sejak semula dikuasai oleh Marah Perlak. Salah se-lorang pedagang Arab berhasil kawin dengan putri Marah Perlak.

Dari perkawinan itu, lahirlah Sayid Abdul Aziz. Dengan sokongan para pedagang asing yang menganut agama Islam aliran Syi'ah, Sayid Abdul Aziz berhasil merebut kekuasaan Marah Perlak dan kemudian mendirikan kesultanan Perlak pada tahun 1161.

Sayid dinobatkan menjadi sultan Perlak dengan julukan Alaiddin Syah. Kesultanan Perlak, yang dipimpin oleh Arab peranakan Sayid Abdul Aziz, mendapat dukungan sepenuhnya dari para pedagang asing dari Arab, Mesir, Persi, dan Gujarat yang menganut aliran Syi'ah.

Baca Juga: Mengenal 7 Warisan Budaya dari Kerajaan Islam di Indonesia

Kecuali kesultanan Perlak di pantai timur Sumatra bagian utara, masih ada kesultanan lain yang dipimpin oleh laksamana laut dari dinasti Fathimiah di Mesir, yakni kesultanan Pasai. Kesultanan Pasai terletak di muara sungai Pasai dan menjadi negara bawahan Mesir.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!