Jabar Saber Hoaks Jaring Ribuan Kabar Bohong Selama Pandemi COVID-19
Rabu, 22 Juli 2020 - 13:51 WIB
"Masyarakat harus lebih teliti dan kritis. Kritis dalam arti penasaran, apakah informasi ini benar atau tidak. Kemudian, jangan sembarang meneruskan informasi yang belum dipastikan kebenarannya," sarannya.
Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) Santi Indra Astuti memaparkan sejumlah dampak buruk dari hoaks. Pertama, merusak ekosistem informasi yang memicu kebingungan di masyarakat karena masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang valid dan tidak.
"Belakangan ketahuan informasinya tidak valid alias hoaks, tapu energi terlanjur tercurah untuk mengurusi informasi yang tidak benar," jelasnya. Menurut Santi, hoaks dapat membuat masyarakat salah mengambil keputusan, khususnya terkait COVID-19.
"Dia menolak untuk berobat karena percaya pada hoaks. Hoaks membuat orang mengambil keputusan yang salah dan berakibat fatal bagi hidupnya," ujarnya. Dia pun memberikan cara untuk mengatasi hoaks. Pertama, berhati-hatilah dengan narasi yang provokatif dan berlebihan karena hoaks kerap menggunakan kalimat-kalimat sensasional dengan maksud mendiskreditkan satu pihak.
Oleh karenanya, jika melihat berita dengan narasi atau judul provokatif, masyarakat sebaiknya mencari informasi lain yang serupa dari situs online resmi atau media arus utama (mainstream). Ciri hoaks lainnya, tambah Santi, adalah ajakan untuk memviralkan. "Setelah itu, validasi atau verifikasi informasi. Informasi itu bisa dibuktikan atau tidak, ada sumbernya atau tidak. Biasanya, kalau hoaks itu menyertakan link, cek link-nya apakah memang seperti itu," paparnya.
Sementara itu, dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Islam Bandung (Unisba) Santi Indra Astuti memaparkan sejumlah dampak buruk dari hoaks. Pertama, merusak ekosistem informasi yang memicu kebingungan di masyarakat karena masyarakat tidak bisa membedakan mana informasi yang valid dan tidak.
"Belakangan ketahuan informasinya tidak valid alias hoaks, tapu energi terlanjur tercurah untuk mengurusi informasi yang tidak benar," jelasnya. Menurut Santi, hoaks dapat membuat masyarakat salah mengambil keputusan, khususnya terkait COVID-19.
"Dia menolak untuk berobat karena percaya pada hoaks. Hoaks membuat orang mengambil keputusan yang salah dan berakibat fatal bagi hidupnya," ujarnya. Dia pun memberikan cara untuk mengatasi hoaks. Pertama, berhati-hatilah dengan narasi yang provokatif dan berlebihan karena hoaks kerap menggunakan kalimat-kalimat sensasional dengan maksud mendiskreditkan satu pihak.
Oleh karenanya, jika melihat berita dengan narasi atau judul provokatif, masyarakat sebaiknya mencari informasi lain yang serupa dari situs online resmi atau media arus utama (mainstream). Ciri hoaks lainnya, tambah Santi, adalah ajakan untuk memviralkan. "Setelah itu, validasi atau verifikasi informasi. Informasi itu bisa dibuktikan atau tidak, ada sumbernya atau tidak. Biasanya, kalau hoaks itu menyertakan link, cek link-nya apakah memang seperti itu," paparnya.
Lihat Juga :