Monumen Plataran Saksi Bisu Perjuangan Taruna Akmil Jaga Kemerdekaan

Jum'at, 17 Juli 2020 - 05:11 WIB
Pertempuran antara Taruna MA bersama pejuang lain dengan Belanda di Plataran, berawal saat Letnan Abdul Jalil yang tewas saat bertempur dengan Belanda di Sambiroto, Purwomatani, Kalasan. 22 Februari 1949. Saat pakainnya digeledah, Belanda menemukan buku harian Abdul Jalil. Di buku harian tersebut tercatat titik-titik markas-markas pejuang di wilayah Kalasan. Seperti di Kringinan dan Ngasem.

Mengetahui hal itu Belanda, pada 22 februari Malam langsung menyerang markas-markas itu Rencana Belanda tersebut sudah diketahui, sehingga para pejuang sebelum Belanda datang telah meninggalkan markas ke tempat lain. Namun Belanda terus mengejar. Puncaknya, 24 Maret 1949 pertempuran pun tidak dapat dihindarkan di Dusun Plataran Kiyudan, Selomartani, Kalasan.

Dalam pertempuran itu beberapa Taruna MA dan pejuang lain meninggal. Satu di antaranya Husein. Bahkan oleh Belanda kepala Husein di penggal sebab Husein dikira orang Jepang. Dari peristiwa inilah dibangun Monumen Plataran sebagai saksi bisu perjuangan taruna MA dan pejuang lain dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

“Ya di tempat ini dulu terjadi pertempuran antara Tarunan MA dan pejuang lain dengan Belanda,” kata pengelola Monumen Plataran, Tomik Subaryadi. (Baca juga : Kisah Keranda Mayat Legendaris 1929 )

Monumen Plataran ini dibangun pada tahun 1976 dan diresmikan pada tanggal 24 Februari 1977 oleh Jenderal Surono. Luas Monumen Plataran 7500 meter. Di dalam Monumen Plataran dibangun patung taruna berdiri setinggi 5 meter di atas batur yang berisi nama-nama pahlawan yang gugur, dengan latar belakang tugu dan patung burung garuda di atasnya. “Patung itu sebagai simbol pejuang Husein yang dipotong tubuhnya,” terang Tomik
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!