Warga Enggan Ambil Jalan Memutar
Selasa, 21 April 2015 - 10:44 WIB
Warga Enggan Ambil Jalan Memutar
A
A
A
KULONPROGO - Ambrolnya Jembatan Kadigunung yang menghubungkan Desa Hargomulyo dengan Kalirejo di Kecamatan Kokap, memutus akses transportasi warga.
Warga harus memutar beberapa kilometer untuk mencari jalan lain. Tidak sedikit warga yang nekat menyeberang sungai. “Terpaksa menyeberang sungai, kalau memutar jauh,” kata Fatonah, seorang ibu yang mengantar anaknya berangkat sekolah.
Menurutnya, menyeberang sungai merupakan alternatif terakhir ketika air susut. Sebab jika air kembali banjir, mereka harus memutar dua hingga lima kilometer. Belum lagi ancaman banjir susulan yang bisa merendam rumah warga. “Semoga bisa cepat tertangani agar akses transportasi normal lagi,” ujarnya. Kepala Hargomulyo, Kokap, Burhani Arwin mengatakan, jembatan itu merupakan akses jalan yang vital karena menghubungkan Desa Kalirejo dan Desa Hargomulyo.
Banjir juga telah menyebabkan talud jalan tangkisan III retak dan mengancam jalan kabupaten. Ancaman juga akan dialami petani yang baru menanam tanaman padi. Jembatan Kadigunung dibangun dengan dana gotong royong dari pemkab sebesar Rp90 juta dan swadaya masyarakat Rp200 juta sehingga jembatan itu bernilai Rp290 juta. “Jembatan ini sudah selesai setahun lalu, tetapi memang belum sempat diresmikan,” ujarnya. Pihak desa telah melaporkan kejadian itu ke instansi terkait mulai dari kecamatan hingga DPU, BPMPDPKB, maupun BPBD.
Melihat kerusakan yang para, jembatan ini tidak bisa direvitalisasi sehingga pembangunan dari ulang harus dilakukan lagi. “Banyak tambak ikan yang jebol padahal ikannya siap panen,” tuturnya. Kasi Rehabilitasi Konstruksi BPBD Kulonprogo, Eko Susanto mengatakan, kejadian jembatan ambrol menjadi bahan pelajaran pada masa mendatang.
Salah satunya dalam merencanakan pembangunan harus melihat kondisi di lapangan. Ambrolnya jembatan ini, seperti kurang tepat dari sisi perencanaan. Sebab lokasi jembatan di dekat tikungan aliran sungai sehingga pada masa mendatang perlu ada supervisi dari SKPD terkait jika akan ada pembangunan.
“Ke depan, kalau ada pembangunan konstruksi perlu ada supervisi dari ahlinya. Karena meliat ciri fisik tentang geologi dan morfologi seperti perencanaannya kurang tepat,” katanya.
Kuntadi
Warga harus memutar beberapa kilometer untuk mencari jalan lain. Tidak sedikit warga yang nekat menyeberang sungai. “Terpaksa menyeberang sungai, kalau memutar jauh,” kata Fatonah, seorang ibu yang mengantar anaknya berangkat sekolah.
Menurutnya, menyeberang sungai merupakan alternatif terakhir ketika air susut. Sebab jika air kembali banjir, mereka harus memutar dua hingga lima kilometer. Belum lagi ancaman banjir susulan yang bisa merendam rumah warga. “Semoga bisa cepat tertangani agar akses transportasi normal lagi,” ujarnya. Kepala Hargomulyo, Kokap, Burhani Arwin mengatakan, jembatan itu merupakan akses jalan yang vital karena menghubungkan Desa Kalirejo dan Desa Hargomulyo.
Banjir juga telah menyebabkan talud jalan tangkisan III retak dan mengancam jalan kabupaten. Ancaman juga akan dialami petani yang baru menanam tanaman padi. Jembatan Kadigunung dibangun dengan dana gotong royong dari pemkab sebesar Rp90 juta dan swadaya masyarakat Rp200 juta sehingga jembatan itu bernilai Rp290 juta. “Jembatan ini sudah selesai setahun lalu, tetapi memang belum sempat diresmikan,” ujarnya. Pihak desa telah melaporkan kejadian itu ke instansi terkait mulai dari kecamatan hingga DPU, BPMPDPKB, maupun BPBD.
Melihat kerusakan yang para, jembatan ini tidak bisa direvitalisasi sehingga pembangunan dari ulang harus dilakukan lagi. “Banyak tambak ikan yang jebol padahal ikannya siap panen,” tuturnya. Kasi Rehabilitasi Konstruksi BPBD Kulonprogo, Eko Susanto mengatakan, kejadian jembatan ambrol menjadi bahan pelajaran pada masa mendatang.
Salah satunya dalam merencanakan pembangunan harus melihat kondisi di lapangan. Ambrolnya jembatan ini, seperti kurang tepat dari sisi perencanaan. Sebab lokasi jembatan di dekat tikungan aliran sungai sehingga pada masa mendatang perlu ada supervisi dari SKPD terkait jika akan ada pembangunan.
“Ke depan, kalau ada pembangunan konstruksi perlu ada supervisi dari ahlinya. Karena meliat ciri fisik tentang geologi dan morfologi seperti perencanaannya kurang tepat,” katanya.
Kuntadi
(ars)