Ratusan Hektar Sawah di Dlingo Masih Tergantung Hujan
Rabu, 15 April 2015 - 17:50 WIB
Ratusan Hektar Sawah di Dlingo Masih Tergantung Hujan
A
A
A
BANTUL - Ratusan hektare sawah di Kecamatan Dlingo belum tersentuh saluran irigasi. Akibatnya, hasil panen para petani kurang maksimal karena mengandalkan hujan saat hendak menggarap sawahnya.
Padahal, dilihat dari tingkat kesuburan Kecamatan Dlingo memiliki tingkat produktivitas cukup tinggi.
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Bantul Yulianto mengatakan, saat ini di Dlingo sudah ada 12 daerah irigasi.
Hanya saja, dari 12 daerah aliran irigasi ini tingkat pengaliran air belum mencapai 1.000 hektar. Padahal, area pertanian di Dlingo di atas 1.000 hektar.
"Memang masih kurang maksimal. Dan itu menjadi tanggungjawab dari kami," ujar Yulianto, Rabu (15/4/2015).
Menurut Yulianto, kondisi tanah di Dlingo cenderung kering dan mengandalkan sistem irigasi dari tadah hujan.
Saluran irigasi yang dibangun oleh pemerintah Kabupaten Bantul di luar tadah hujan belum bisa maksimal.
Tahun ini, pihaknya meningkatkan kualitas 6 daerah irigasi dengan harapan mampu meningkatkan luas area persawahan yang mendapatkan air.
Kepala seksi rehabilitisai dan pengembangan saluran irigasi SDA Bantul Sigit Pulunggono mengatakan, tahun ini pihaknya merehabilitasi 6 daerah irigasi di Dlingo.
Dalam rehab 6 daerah irigasi ini harus mengeluarkan dana sebesar Rp 1,5 miliar. Masing-masing daerah irigasi mendapatkan alokasi sebesar Rp 250 juga hingga Rp 500 juta tergantung situasi dari masing-masing daerah irigasi.
"Khusus di Maladan yang kami rehabilitasi sumurnya. Tetapi di lain tempat yang kami rehabilitasi pasangan dan bendungannya," terangnya.
Padahal, dilihat dari tingkat kesuburan Kecamatan Dlingo memiliki tingkat produktivitas cukup tinggi.
Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Kabupaten Bantul Yulianto mengatakan, saat ini di Dlingo sudah ada 12 daerah irigasi.
Hanya saja, dari 12 daerah aliran irigasi ini tingkat pengaliran air belum mencapai 1.000 hektar. Padahal, area pertanian di Dlingo di atas 1.000 hektar.
"Memang masih kurang maksimal. Dan itu menjadi tanggungjawab dari kami," ujar Yulianto, Rabu (15/4/2015).
Menurut Yulianto, kondisi tanah di Dlingo cenderung kering dan mengandalkan sistem irigasi dari tadah hujan.
Saluran irigasi yang dibangun oleh pemerintah Kabupaten Bantul di luar tadah hujan belum bisa maksimal.
Tahun ini, pihaknya meningkatkan kualitas 6 daerah irigasi dengan harapan mampu meningkatkan luas area persawahan yang mendapatkan air.
Kepala seksi rehabilitisai dan pengembangan saluran irigasi SDA Bantul Sigit Pulunggono mengatakan, tahun ini pihaknya merehabilitasi 6 daerah irigasi di Dlingo.
Dalam rehab 6 daerah irigasi ini harus mengeluarkan dana sebesar Rp 1,5 miliar. Masing-masing daerah irigasi mendapatkan alokasi sebesar Rp 250 juga hingga Rp 500 juta tergantung situasi dari masing-masing daerah irigasi.
"Khusus di Maladan yang kami rehabilitasi sumurnya. Tetapi di lain tempat yang kami rehabilitasi pasangan dan bendungannya," terangnya.
(nag)