Lebih dari 70% PRT Diperlakukan Diskriminatif

Senin, 23 Maret 2015 - 12:33 WIB
Lebih dari 70% PRT Diperlakukan...
Lebih dari 70% PRT Diperlakukan Diskriminatif
A A A
SEMARANG - Setidaknya 70% pekerja rumah tangga (PRT) di Kota Semarang mendapatkan perlakuan diskriminatif, bahkan kekerasan saat melaksanakan pekerjaannya.

Banyakpuladiantara mereka yang tidak mendapatkan hak-hak dari pekerjaannya itu. Ketua Serikat Pekerja Rumah Tangga (PRT) Merdeka Kota Semarang, Nur Kasanah, menyebut ini karena belum ada payung hukum yang melindungi mereka. Para PTT ini mengalami berbagai kekerasan, dari gaji yang tidak layak, pemotongan gaji sepihak, tidak ada hari libur mingguan, cuti tahunan, jaminan kesehatan, kebebasan berserikat, serta tidak adanya perjanjian tertulis sehingga mereka dapat diberhentikan sewaktu-waktu.

“Bahkan tidak sedikit pula mereka yang mendapatkan kekerasan fisik maupun psikis,” katanya saat berunjuk rasa di gelaran Car Free Day (CFD) di Jalan Pahlawan, Kota Semarang, kemarin. Banyak kasus kekerasan yang dialami PRT hanya berhenti di kepolisian. Sebab, memang tidak ada aturan baku yang menaungi nasib kami ini. Dalam UU Ketenagakerjaan Nomor 13/2003 juta tidak tercantum dengan rinci mengenai perlindungan terhadap para PRT.

Untuk itu, lanjut Nur, kemarin dia beserta puluhan pekerja rumah tangga di Kota Semarang menggelar aksi unjuk rasa. Acara tersebut sebagai bukti bahwa PRT sudah sangat menderita dan mendesak segera diberikan perlindungan secara hukum. “Kami menagih janji Presiden Joko Widodo untuk segera mengesahkan RUU PRT dan Konvensi ILO Nomor 189 tentang Situasi Kerja Layak PRT. Kami juga mendesak kepada Gubernur Jateng dan DPRD Jateng ikut mengawal dan mendesak agar DPR segera memasukan RUU ini dalam Prolegnas tahun ini agar dapat segera disahkan,” tekannya.

Dalam aksi ini puluhan ibuibu pembantu rumah tangga menggelar doa bersama di gelaran CFD. Mereka menabur bunga sebagai bentuk keprihatinannya akan nasib yang dialaminya selama ini. “Sebelum kegiatan ini kami juga telah melakukan giat berupa aksi mogok makan bersama 14.000 relawan. Tujuannya hanya satu, kami ingin agar nasib kami diperhatikan dan kami diberi perlindungan hukum,” kata Zaenab, salah satu PRT yang ikut aksi.

Sejak delapan tahun terakhir bekerja sebagai pembantu rumah tangga, Zaenab kerap mendapat perlakuan diskriminatif. Selain gaji rendah, dia juga pernah dilarang menggunakan pakaian bagus dan membawa tas.

Andika prabowo
(ars)
Berita Terkait
Kearifan Lokal, Wakil...
Kearifan Lokal, Wakil Kepala BPIP: Pancasila Falsafah Bangsa
Digitalisasi Konservasi...
Digitalisasi Konservasi Mangrove
Potret Festival Dolanan...
Potret Festival Dolanan Anak 2025 di Lapangan Laboratorium Prof Soegijono FIK Unnes
Ganjar Pranowo, Gubernur...
Ganjar Pranowo, Gubernur yang Merakyat
4 Kota dengan Janda...
4 Kota dengan Janda Terbanyak di Jawa Tengah, Nomor 3 Lebih dari 5.000
6 Penghargaan yang Diterima...
6 Penghargaan yang Diterima Ganjar Pranowo saat Menjadi Gubernur Jawa Tengah
Berita Terkini
Kapal Basarnas Terbakar...
Kapal Basarnas Terbakar di Muara Baru, 14 Unit dan 70 Personel Damkar Dikerahkan
4 jam yang lalu
Refly Harun Dampingi...
Refly Harun Dampingi Korban Dugaan Pemerasan Bangun Paulus di PN Jakpus
5 jam yang lalu
BNPP Dorong Percepatan...
BNPP Dorong Percepatan PLBN Seimanggaris, Perkuat Gerbang Negara yang Terhubung ke Koridor Ekonomi BIMP-EAGA
6 jam yang lalu
Ruko di Pasar Ciputat...
Ruko di Pasar Ciputat Tangsel Terbakar, Api Masih Berkobar
6 jam yang lalu
Jadi Kawasan Wisata,...
Jadi Kawasan Wisata, Bali Kian Dilirik Perusahaan Asuransi
6 jam yang lalu
Riau Bhayangkara Run...
Riau Bhayangkara Run 2026 Ciptakan Efek Ekonomi Rp58,9 Miliar
6 jam yang lalu
Infografis
10 Figur Publik Penerima...
10 Figur Publik Penerima Beasiswa LPDP, dari Mutiara Baswedan hingga Maudy Ayunda
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved