Menteri Kesehatan Minta Tanaman Obat Dikembangkan

Senin, 23 Maret 2015 - 12:33 WIB
Menteri Kesehatan Minta...
Menteri Kesehatan Minta Tanaman Obat Dikembangkan
A A A
KARANGANYAR - Potensi tanaman obat harus dikembangkan seiring dengan meningkatnya permintaan obat herbal. Apalagi, Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil ramuan tradisional yang kualitasnya tidak kalah dengan obat-obatan farmasi.

“Bisakah bahan-bahan ini (tanaman obat) kita manfaatkan? Ini yang patut dipikirkan karena ada nilai plus dari sisi ekonomi yang bisa dikerjakan seiring dengan meningkatnya permintaan obat nonfarmasi,” ujar Menteri Kesehatan (Menkes) NilaFMoeloekdiBalaiBesar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT)di Kecamatan Tawangmangu, Karanganyar, kemarin.

Dalam sambutannya, Menkes mengatakan, jiwa entrepreneur perlu dikembangkan guna mendorong terciptanya nilai lebihdalampemanfaatantanaman obat tradisional. Mereka yang bergerak dalam bidang ini, diharapkan mendapatkan nilai positif dari aspek ekonomi. Menkes melihat industri berbasis tanaman obat tradisional punya prospek yang menjanjikan baik di pasar nasional maupun internasional. Namundirinya tak ingin kekayaan alam dijual begitu saja kepada pihak asing tanpa melalui proses pertambahan nilai.

“Meski bisa dimanfaatkan, tapi jangan sampai nilai tambah keuntungannya diambil oleh pihak luar,” katanya. Menurutnya, tanaman obat asli Indonesia harus bisa dimanfaatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan maupun untuk mengobat penyakit berat yang membutuhkan biaya mahal jika menggunakan obat farmasi. Menkes mengaku, saat ini ada tiga formula jamu yang telah disaintifikasi dan diuji klinis. “Hasilnya, formula jamu tersebut bisa dipakai sebagai obat setara dengan obat farmasi,” katanya.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementrian Kesehatan (Kemenkes) Tjandra Yoga Aditama menjelaskan, B2P2TOOT yang ada di Tawangmangu merupakan satu dari 11 lokasi penelitian di Indonesia. menurutnya, ada sejumlah fasilitas penunjang di balai tersebut seperti laboratorium terpadu, lab pasca panen, dan rumah riset jamu.

Ary wahyu wibowo
(ars)
Berita Terkait
Kearifan Lokal, Wakil...
Kearifan Lokal, Wakil Kepala BPIP: Pancasila Falsafah Bangsa
Ganjar Pranowo, Gubernur...
Ganjar Pranowo, Gubernur yang Merakyat
Digitalisasi Konservasi...
Digitalisasi Konservasi Mangrove
Potret Festival Dolanan...
Potret Festival Dolanan Anak 2025 di Lapangan Laboratorium Prof Soegijono FIK Unnes
4 Kota dengan Janda...
4 Kota dengan Janda Terbanyak di Jawa Tengah, Nomor 3 Lebih dari 5.000
6 Penghargaan yang Diterima...
6 Penghargaan yang Diterima Ganjar Pranowo saat Menjadi Gubernur Jawa Tengah
Berita Terkini
PPP Banten Gelar Mukerwil...
PPP Banten Gelar Mukerwil V, Fokus Konsolidasi Hadapi Verifikasi Pemilu 2029
20 menit yang lalu
Integrasi Pendidikan,...
Integrasi Pendidikan, Visitasi Rektorat UIN Jakarta Berjalan Lancar dan Tak Ganggu KBM
25 menit yang lalu
Insiden di Blok M, Kuasa...
Insiden di Blok M, Kuasa Hukum Selebgram MIA Beri Klarifikasi
31 menit yang lalu
Jadi Ruang Kolaborasi...
Jadi Ruang Kolaborasi Seniman, Menekraf Apresiasi ArtMoments Jakarta 2026
42 menit yang lalu
Mahasiswa hingga Dosen...
Mahasiswa hingga Dosen STIA Madinatul Ilmi Depok Ikuti Kegiatan Literasi Keuangan
51 menit yang lalu
World Chiz Day 2026,...
World Chiz Day 2026, Prochiz Sasar Lebih dari 1.000 Siswa SD di Tiga Kota
2 jam yang lalu
Infografis
Jadi Buah Terbaik di...
Jadi Buah Terbaik di Asia Tenggara, Ini 7 Manfaat Manggis untuk Kesehatan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved